LIPI Sambut Manajemen Riset Era 4.0

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut semakin meningkatnya kompetensi profesi peneliti. Pemerintah telah menyusun Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No.34 Tahun 2018 tentang Jabatan Fungsional Peneliti.

Wakil Kepala LIPI, Bambang Subiyanto menjelaskan bahwa saat ini kita sudah mulai masuk pada masa revolusi industry 4.0. Kegiatan dimana manufaktur di kawasan industry tidak saja merambah bidang teknologi tetapi juga menyerbu bidang social. “Fenomena 4.0 menjadi perhatian inrevitalisasi manufaktur dan akan mempercepat perkembangan pembangunan,” ungkap Bambang pada Sosialisasi Jabatan Fungsional Peneliti Senin (1/10) di Jakarta.

“Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2030 dimana SDM menjadi kunci faktor keberhasilan pembangunan," tegas Bambang pada sambutan pembukaan sosilaisasi tersebut. Pada saatnya nanti syarat untuk menjadi peneliti adalah minimal S2 dan untuk menjadi peneliti utama minimal S3.

Sementara itu, pada acara talkshow “Manajemen Riset di Era 4.0” , Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko memaparkan bahwa pada intinya pada manajemen 4.0 ini adalah harus masuk pada teknologi kunci dan bukan teknologi produk. “Inti industri 4.0 merupakan perubahan produk improvement menjadi tantangan peneliti Indonesia ke depan,” jelasnya.

Lebih dalam dijelaskan apa yang didapat pada manajemen Riset 4.0 adalah bahwa riset harus dilakukan dari hulu sampai hilir. “Diantara hulu dan hilir ini nantinya ada pihak lain yang akan bertindak menjadi middle man, yaitu pihak yang akan menyelesaikan riset tersebut. Sebenarnya middle man ini adalah bentuk start up yang akan bertindak sebagai penyelesai akhir hasil riset,” jelas Handoko.

Handoko mengungkapkan bahwa nantinya satuan kerja di litbang baik kementerian maupun lembaga penelitian didorong untuk mengeksplorasi anggaran penelitian dari eksternal sehingga harapannya nanti dapat berkolaborasi dengan Bapennas, hal ini akan lebih baik yaitu akumulasi knowledge. “Harapannya lagi kedepan kita mampu “menjual” modal yang kita miliki yaitu dengan akumulasi knowledge,” pungkasnya.(Rdn/ed:lyr)


Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 218