Menilik Keindahan Tanaman Langka di Kebun Raya “Eka Karya” Bali LIPI

 
 
Tabanan, Bali. Sesosok perempuan muda berkerudung tampak asik mengamati satu per satu tanaman anggrek yang tersusun rapi dan indah. Dengan antusias, perempuan ini kemudian menanyakan nama dan jenis tanaman tersebut.
 
“Ini jenis anggrek apa Pak?,” tanya perempuan berpakaian warna pink ini. Salah seorang petugas yang berada di taman anggrek itu pun menjawab, “Anggrek hantu atau Taeniophyllum. Ini merupakan salah satu jenis anggrek langka.”
 
Lontaran-lontaran pertanyaan lanjutan pun keluar dari perempuan yang sedang penasaran tersebut. Ya, dia adalah Fitriana Hayyu Arifah, seorang mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
 
Pada Jumat (13/4/2018), Fitriana bersama dengan belasan pengunjung lainnya sedang melakukan kegiatan kunjungan khusus ke Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya “Eka Karya” Bali atau kerap disebut Kebun Raya Bali, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kegiatan itu bertajuk Media Tour ”Eksplorasi Hasil-Hasil Penelitian LIPI”.
 
Dia dan para peserta kegiatan ini berkesempatan mengelilingi Kebun Raya Bali dari pagi hingga siang hari. Mereka dipandu langsung oleh Bayu Adjie, Kepala Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya “Eka Karya” Bali LIPI dan beberapa orang stafnya.
 
Mereka diajak menikmati setiap keindahan kebun raya di pulau dewata itu, mulai dari beragam jenis taman tanaman langka koleksi hasil penelitian hingga berbagai tempat menarik lainnya. Para peserta pun antusias mengikuti setiap tahapan kunjungan yang ada.

 


 
Tanaman Langka
 
Khusus untuk tanaman langka, Kebun Raya Bali merupakan salah satu surga bagi konservasi tanaman tersebut. Menurut Bayu, ada ratusan jenis tanaman langka yang berada di Kebun Raya Bali dari sekitar 2.424 jenis koleksi yang ada.
 
Ambil contoh di Taman Anggrek. Di taman ini, ada sekitar 293 jenis koleksi anggrek. Dari banyak jenis anggrek yang telah dikoleksi, ada puluhan jenis anggrek langka dan beberapa jenis memiliki tampilan luar yang sangat menarik seperti Vanda tricolor dengan bunganya yang berwarna putih dengan hiasan merah tua kecoklatan.
 
“Sedangkan untuk jenis anggrek langka, beberapa diantaranya adalah anggrek kasut atau Paphiopedilum javanicum, anggrek hantu atau Taeniophyllum, serta dua jenis anggrek endemik Bali yaitu Malleola baliensis dan Calanthe baliensis,” ungkap Bayu.


 
Dikatakan Bayu, koleksi anggrek-anggrek langka awalnya merupakan anggrek liar yang sudah jarang ditemui di alam. Keberadaannya semakin terancam karena hilangnya habitat akibat konversi lahan dan penebangan hutan, atau pengambilan berlebih di alam untuk tujuan perdagangan.
 
Selain anggrek, koleksi tanaman langka lain adalah bunga bangkai. Kemudian ada pula jenis tanaman upacara adat yang langka seperti majegau (dysoxyllum meliaceae). “Tanaman ini kami dapatkan pohonnya di Desa Tenganan, Karangasem,” tutur Bayu.
 
Fungsi Konservasi
 
Secara umum, Bayu menyebutkan bahwa adanya beragam jenis tanaman langka di Kebun Raya Bali menunjukan salah satu fungsi kebun raya seluas 157,5 hektar ini sebagai tempat konservasi tumbuhan. “Kebanyakan koleksi merupakan tumbuhan yang berada di dataran tinggi Indonesia bagian timur,” ucapnya.


 
Jenis koleksi tumbuhan yang ada di Kebun Raya Bali mulai dari pohon raksasa hingga jenis tanaman hias yang cantik nan eksotik. Selain 293 jenis anggrek, ada 75 jenis bambu, 203 jenis tumbuhan paku, 334 jenis tanaman obat, 96 jenis begonia, dan 212 jenis tanaman untuk upacara adat. Sedangkan untuk tanaman koleksi umum sebanyak 1.324 jenis.
 
Kebun Raya Bali sendiri selain berfungsi sebagai tempat konservasi, juga memiliki fungsi lain yakni sebagai tempat penelitian, pendidikan lingkungan, jasa lingkungan dan juga pariwisata. Kebun raya tersebut berdiri dan diresmikan sejak 15 Juli 1959.
 
“Visi kami saat ini adalah menjadi kebun raya berkelas dunia yang menjadi referensi nasional maupun internasional dalam bidang konservasi ex-situ tumbuhan pegunungan tropika dan pelayanan dalam aspek botani, pendidikan lingkungan, hortikultura, lansekap dan pariwisata,” tutup Bayu. (pwd,eka/ed: dig)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Bayu Adjie M.Sc.