Pengembangan Instrumentasi Neraca Air untuk Ketahanan Air Nasional

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Air merupakan kebutuhan yan sangat vital dalam kehidupan. Namun ironisnya, ketahanan air telah menjadi salah satu masalah utama bagi banyak negara di dunia. Ini karena kita sering lupa bahwa tidak ada jaminan air yang tampak melimpah saat ini, akan dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup selamanya. Krisis air dapat terjadi jika pemanfaatan dan pengelolaan air tidak dijaga.

“Di Indonesia saja, nisbah konsumsi ketersediaan air biru (air permukaan dan air tanah) sudah mencapai 23%. Masih tergolong tidak kritis memang, namun boleh jadi ada daerah-daerah tertentu yang sudah kritis,” sebut Profesor Riset Sensus Wijonarko, peneliti bidang Teknologi Instrumentasi Pusat Penelitian Fisika LIPI.

Sensus telah melakukan penelitian “Instrumentasi Neraca Air dalam Sistem Pengamat Hidrometeorologi Terpadu untuk Upaya Mewujudkan Ketahanan Air”. Penelitian ini ditujukan untuk menjadi salah satu upaya dalam menjaga ketahanan air. “Ketahanan air suatu wilayah dapat dilihat dari neraca air di wilayah tersebut,” ujarnya dalam sesi orasi pengukuhan Profesor Riset LIPI (27/7) kemarin.

Sensus mengambil contoh neraca air di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Menurutnya, neraca air di Pulau Panggang belum mampu menunjukkan tolak ukur kontinyuitas air. Padahal, ketersediaan dan kebutuhan air di suatu wilayah bersifat dinamis, dapat berubah setiap saat. Selain itu, neraca tersebut hanya menekankan aspek pemantauan sehingga tidak menunjukkan tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ketahanan air. “Untuk itu, dirasa perlu ada instrumentasi atau sistem pengamat hidrometrologi ynag dapat melakukan kedua fungsi tersebut,” jelas Sensus.

Instrumentasi Neraca Air
Instrumentasi neraca air adalah sistem yang dapat mengambil keputusan sendiri untuk mengukur dan mengendalikan sebagian input, proses, dan output air di suatu area. Tujuannya, menjaga ketersediaan dan ketahanan air area tersebut. Selanjutnya, instrumentasi ini diharapkan dapat masuk dalam sistem terpadu pengamat hidrometeorologi Indonesia guna menjadi salah satu komponen jaringan yang lebih luas seperti WIGOS (World Meteorological Organization Integrated Global Observing System).

Profesor Riset Sensus Wijonarko menyatakan instrumentasi neraca air dapat berbentuk kalang terbuka dan kalang tertutup. Instrumentasi neraca air kalang terbuka (searah) adalah instrumentasi yang neraca airnya tidak memiliki umpan balik (air di bagian keluaran dalam neraca air tersebut tidak ada yang kembali ke bagian masukannya). Salah satu instrumentasi neraca air kalang terbuka telah dibangun tahun 1987‒1989 dan 1991 untuk membantu pengelolaan air di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata, Jawa Barat. Sistem ini terdiri dari subsistem telemetri hidrometeorologi, subsistem komunikasi suara, dan subsistem peringatan bahaya (dini).

Sementara itu, instrumentasi neraca air kalang tertutup (daur air) merupakan instrumentasi neraca air di mana sebagian air di bagian proses dan/atau luaran kembali ke bagian masukan. Instrumentasi neraca air kalang tertutup dibangun di PDAM Serkuk, Belitung (2012‒2014) guna mengetahui neraca air di SubDAS Serkuk yang ada dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) Kubu. Instrumentasi ini terdiri dari sekumpulan instrumen curah hujan, intersepsi, evaporasi, transpirasi, air larian, dan infiltrasi air ke tanah.

“Dalam praktiknya, instrumentasi neraca air perlu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan konsumen, mengingat tidak setiap konsumen dapat memahami konsep instrumentasi neraca air dengan mudah, untuk itu akan diberikan contoh sebagai berikut,” papar Sensus.

Pertama, salah satu cara mengukur ketahanan air di suatu daerah secara terus-menerus adalah dengan memakai data pengukuran yang ada dalam kantor-kantor penyedia air bersih, khususnya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat. Dalam praktiknya, instrumentasi neraca air yang dapat menggambarkan ketahanan air setempat secara aktual perlu disederhanakan sehingga lebih mudah dipahami oleh pimpinan dan karyawan di PDAM. “Caranya adalah dengan mengambil esensi instrumentasi neraca air untuk mendapatkan gambaran tentang K4 (kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan keterjangkauan) air. Cara ini telah berhasil diterapkan di PDAM Bangka Barat karena K4 merupakan konsep yang digunakan oleh PDAM sehari-hari,” jelas Sensus.

Selanjutnya, instrumenatsi neraca air Web Based Rain Gauge Calibrator (WBRGC). Sensus menyampaikan instrumentasi ini digunakan untuk menjadi alternatif metode kalibrasi pengukur curah hujan yang ada saat ini, yaitu metode statis, dinamis dan otomatis. “WBRGC memiliki keunggulan, antara lain hasil kalibrasi sudah dapat diperoleh di depan meja pengambil keputusan sewaktu petugas kalibrasi masih di lapangan,” terang Sensus.

Keberlanjutan Instrumentasi Neraca Air
Dalam penerapannya ke depan, instrumentasi neraca air ini akan ikut serta dalam program Smart Water Management System (SWMS) dan mengujiterapkan pada pihak-pihak terkait, seperti untuk pulau-pulau kecil berpenghuni, PDAM, dan hotel. Selain itu,  instrumentasi neraca air ini perlu terus dikembangkan dan diterapkan seluas-luasnya, serta diintegrasikan dengan data WIGOS dan/atau jaringan global lainnya guna menjadi bagian dari data besar sistem pengamat hidrometeorologi terpadu tingkat dunia.

“Data tingkat dunia yang terbuka bagi setiap negara seperti ini diharapkan dapat memperkecil kemungkinan terjadinya konflik atau bahkan perang antarnegara akibat air. Selain itu, distribusi air secara proporsional dapat direalisasikan,” imbuh Sensus. (iz/ ed: drs).
 
 
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Sensus Wijonarko M.Sc.
Diakses : 332