Perpustakaan PDII LIPI, Alternatif Basis Informasi

 
 

APAKAH Anda seorang peneliti atau Anda sedang dalam tahap pengerjaan tugas akhir kuliah atau mungkin Anda adalah orang yang mempunyai kegemaran membaca

Jika jawabannya ya, maka perpustakaan, baik nasional, regional maupun perpustakaan yang disediakan berbagai lembaga, menjadi tempat yang sudah diakrabi.

Untuk berbagai keperluan itu, Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI) mungkin bisa juga menjadi salah satu tempat alternatif basis referensi.

Perpustakaan PDII LIPI, yang berlokasi di Jl Jenderal Gatot Subroto Nomor 10 Jakarta ini, adalah salah satu pusat layanan bagi masyarakat dalam bidang informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang disediakan pemerintah, dalam hal ini LIPI.

PDII LIPI dulunya bernama Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN), yang berdiri sejak 1 Juni 1965. Kemudian pada perjalanannya, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1986, semua unit kerja PDIN mengalami perubahan struktur organisasi. Selain mengalami perombakan struktur, pada 13 Januari 1986, PDIN resmi berubah nama menjadi PDII LIPI.

Perpustakaan PDII LIPI sendiri adalah salah satu jasa pelayanan yang disediakan PDII LIPI, di samping layanan informasi iptek lain. Layanan yang disediakan dan dapat dipergunakan masyarakat luas ini antara lain jasa informasi kilat, jasa penelusuran literatur, paket informasi teknologi industri, atau penyebaran informasi terseleksi.

Perpustakaan PDII LIPI dibagi menjadi tiga ruangan. Ruangan pertama adalah ruangan yang berisi koleksi majalah, berada dalam satu lantai bersama dengan ruang utama, yang menyediakan koleksi umum dan tempat layanan jasa informasi.

Ruangan lain, tepat satu lantai di atasnya, tersedia koleksi khusus informasi wanita dan anak yang menyatu dengan koleksi terbitan penulis-penulis iptek terkenal seperti Astrid S Susanto, George L Hicks atau Abdurrahman Suryomiharjo.

Untuk sebuah tempat mencari referensi di bidang iptek, Perpustakaan PDII LIPI ini cukup representatif dan lengkap. Sampai saat ini, Perpustakaan PDII LIPI telah memiliki koleksi sekitar 190 ribu judul yang terdiri dari buku umum, referensi, majalah terjilid, laporan penelitian dan pertemuan ilmiah, disertasi, bibliografi, indeks, serta sari karangan.

Untuk koleksi majalah ilmiah, terdapat tidak kurang dari dua ribu judul majalah iptek luar negeri dan 700 judul majalah iptek dalam negeri. Terdapat juga artikel majalah dan surat kabar tentang wanita dan anak, sebanyak 1.900 judul.

Menurut data yang disediakan oleh Sub-Bidang Jasa Perpustakaan PDII LIPI, sampai akhir November lalu jumlah pengunjung yang datang untuk 2003 ini sebanyak 34.881. Sekitar 81 0engunjung berasal dari kalangan mahasiswa, dan sisanya berasal dari dosen, pelajar, dan umum.

"Kalau diestimasi setiap harinya ada sekitar 300 sampai 500 pengunjung yang datang ke perpustakaan ini, " ujar Srihartinah, yang menjabat sebagai Kepala Sub-Bidang Jasa Perpustakaan PDII LIPI.

Bagi para pengunjung perpustakaan, disediakan sistem on-line public access catalogues (OPAC) dalam 14 perangkat komputer yang disediakan sebagai katalogisasi koleksi perpustakaan untuk mencari judul bacaan yang dibutuhkan.

Komputer kurang

Namun, ketika Media berkunjung ke Perpustakaan PDII LIPI belum lama ini, terlihat jumlah komputer (yang menyediakan sistem OPAC) yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang.

Sehingga, setiap orang yang ingin mencari daftar bacaan lewat OPAC harus siap mengantre sekitar lima sampai sepuluh menit. Sedangkan daftar katalog kartu yang ada di Perpustakaan PDII LIPI sudah tidak bisa digunakan karena tidak lagi akurat.

Srihartinah menjelaskan bahwa kondisi seperti itu masih lumayan dibandingkan dengan perustakaan-perpustakaan lembaga penelitian yang ada di Australia misalnya. Menurutnya, dengan jumlah 14 komputer yang ada di Perpustakaan LIPI saat ini sudah sesuai dengan jumlah pengunjung yang datang.

"Di CSIRO (lembaga penelitian di Australia) itu, antrean untuk melihat katalog seperti orang ingin membeli tiket, jadi setiap orang dibatasi waktunya 10 sampai 15 menit, " kata Srihartini.

Ketika ditanya apakah jumlah komputer akan ditambah untuk meningkatkan mutu pelayanan, Srihartini dengan singkat menjawab, "Ya, kami akan mengusahakan penambahan jumlah komputer. " (MG-9/B-3)

Sumber : Koran Tempo (5 Oktober 2006)

Diakses : 5302