Riset Biofortifikasi Pangan untuk Atasi Persoalan Nutrisi

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Indonesia saat ini dibanjiri berbagai makanan impor. Kondisi ini diperberat dengan perilaku masyarakat terkait gizi dan pengasuhan pola konsumsi masyarakat yang belum memadai. "Indonesia saat ini peringkat 69 dari 113 negara dilihat dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, kualitas dan keamanan pangan menurut global food security index 2017. Saat ini telah terjadi perubahan pengeluaran untuk konsumsi pangan olahan yg cenderung naik. Hal ini dikhawatirkan dapat berpengaruh pada konsumsi pangan yang berpengaruh pada kekerdilan atau stunting," ungkap Agus.

Agus memaparkan, saat ini LIPI tengah melakukan riset biofortifikasi pangan yakni proses menambahkan zat gizi pada bahan baku hasil pertanian pada proses budidaya. "Zat gizi ditambahkan pada bahan baku pertanian bukan pada produknya sehingga setelah budidaya bisa menghasilkan pangan kaya nutrisi," jelasnya.

Ia menambahkan, riset terkait pangan biofortifikasi saat ini sudah dilakukan oleh lima satuan kerja LIPI yakni Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna, Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) dan Pusat Penelitian Biologi. "Untuk Pusat Penelitian Bioteknologi risetnya yakni padi kaya Fe dan Zn, Beta Glukan, padi kaya beta glukan, umbi garut bebas gluten, dan singkong kaya beta karoten. Sedangkan Pusat Peneltian Kimia risetnya tentang biofortifikasi asam folat alami," jelas Agus.

Lebih lanjut, Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna melakukan riset biofortifikasi terkait puding dan bubur instan, pasta dari mocaf, tepung jagung,mie non gandum, banana flake dan probarz. “BPTBA juga telah melakukan penelitian terkait biofortifikasi yakni produk tepung makanan campuran tempe. Sedangkan, Pusat Penelitian Biologi risetnya yakni biofortifikasi selenium,” pungkas Agus. (lyr/ed: fza)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Agus Haryono M.Sc.
Diakses : 3605