Samosir Jadi Contoh Baik Pengelolaan Technopark

 
 
Samosir, Humas LIPI. Technopark Samosir yang terletak di desa Janji Martahan, kecamatan Pangururan, kabupaten Samosir, Sumatera Utara, menjadi contoh baik pengelolaan Technopark. “Sampai saat ini Technopark Samosir mampu menghasilkan benih ikan mas sampai 2,4 juta ekor, meningkat dari sebelumnya yang hanya 10 ribu ekor per tahun,” ujar Kepala LIPI, Iskandar Zulkanaiin di Samosir, Minggu (30/10) lalu.
 
Technopark Samosir sendiri mulai beroperasi sejak 30 Juni 2015 dengan fokus kegiatan pada pengembangan bidang perikanan dan pengelolaan sumber daya perairan di kawasan Danau Toba. Sebelumnya merupakan Balai Benih Ikan Kabupaten Samosir yang fasilitasnya mangkrak sehingga menyulitkan peternak ikan setempat untuk memperoleh pasokan bibit ikan. Para peternak seringkali harus mendatangkan bibit ikan dari daerah lain, seperti Pematang Siantar dan Dairi, sehingga berpengaruh pada kenaikan biaya.
 
Menurut Iskandar, Technopark Samosir merupakan wujud sinergi yang baik antara LIPI sebagai lembaga penelitian dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi setempat. “Komitmen dari Pemerintah Kabupaten Samosir yang memang pada akhirnya menetukan keberlanjutan, namun LIPI berkomitmen untuk tetap berkiprah tidak hanya di perikanan namun juga bidang lain,” jelas Iskandar.
 
Bupati Samosir, Rapidin Simbolon menyatakan pihaknya akan menaikkan anggaran pengelolaan Technopark Samosir dari sebelumnya yang mencapai 1,4 miliar rupiah. “Kami juga telah memperbarui kerjasama  dengan LIPI agar kegiatan Technopark terus berjalan,” ujarnya.
 
Rapidin menyatakan kehadiran LIPI dan Technopark Samosir telah membawa kontribusi signifikan bagi pertumbuhan perekonomian di daerahnya yang salah satunya ditopang oleh sektor perikanan. “Peternak ikan Sanosir sangat terbantu dengan teknologi pembenihan ikan yang dikenalkan oleh LIPI. Target kami selanjutnya adalah menyediakan benih ikan mas sampai 5 juta ekor per tahun,” terangnya.
 
Peningkatan produksi benih
 
Sebelum Technopark Samosir berdiri, penyediaan benih ikan di Samosir terkendala oleh beberapa hal mulai dari keterbatasan infrastruktur sampai kondisi alam di sekitar Samosir. “Yang paling berpengaruh adalah fluktuasi suhu permukaan air antara siang dan malam,” terang Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Fauzan Ali.
 
Menurut Fauzan perbedaan suhu permukaan air kolam antara siang dan malam di Samosir bisa mencapai 11 derajat celcius. “Idealnya perbedaan suhu tak lebih dari 5 derajat celcius karena jika lebih dari itu akan berpengaruh ke proses pembenihan,” terangnya.
 
Pihaknya lalu membangun kubah untuk menutup kolam pembenihan. Kubah ini menggunakan bahan polycarbonat dan ditopang dengan rangka baja. “Prinsip kubah ini adalah memanen panas. Kubah ini akan menghangatkan air kolam di siang hari dan menyimpan panas saat malam sehingga suhu permukaan air kolam lebih stabil,” paparnya. Selain itu, desain kubah juga dirancang agar tahan dari terpaan angin kencang yang kerap melanda kawasan perbukitan Janji Martahan.
 
Pusat Penelitian Limnologi juga sedang melakukan uji coba sistem online monitoring berbasis sistem aplikasi Android. Sistem ini akan memonitor suhu dan kualitas air yang akan terhubung secara langsung ke ponsel. Sistem ini sebelumnya telah berhasil diterapkan di danau Maninjau, Sumatera Barat.
 
Fauzan menjelaskan, Technopark Samosir juga tengah mengembangkan pabrik pakan ikan untuk memenuhi kebutuhan pakan benih ikan  yang punya spesifikasi khusus. “Setelah target benih ikan mas tercukupi, target kami selanjutnya adalah pembiakan ikan spesies asli  Danau Toba yakni ikan pora-pora yang mulai terncam punah,” tutupnya. (fza/ed:isr)

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Fauzan A. M.Sc.
Diakses : 1768