Satwa yang Menularkan Penyakit : Satwa seperti halnya manusia, tidak terbebas dari penyakit

 
 

Satwa seperti halnya manusia, tidak terbebas dari penyakit. Ini berlaku bagi satwa piaraan kesayangan ataupun satwa liar yang hidup bebas di alam dan yang hidup dalam kandang, seperti di kebun binatang. Berbagai penyakit dapat ditemukan, dari yang patogen hanya terhadap satwa itu sendiri hingga yang dapat menular kepada manusia. Dalam dunia kedokteran dikenal istilah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari satwa kepada manusia dan sebaliknya. Zoonosis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit (endoparasit atau ektoparasit), serta oleh jamur. Lebih dari 34 jenis penyakit menular yang dikategorikan zoonosis telah diidentifikasi oleh ahli penyakit hewan.

Zoonosis pada hewan domestik

Penyakit zoonosis dapat ditularkan oleh hewan domestik (yang telah dijinakkan dan dikembangbiakkan sebagai hewan ternak atau hewan piaraan) dan oleh satwa liar. Kasus terbaru yang menghebohkan adalah avian influenza, yang dugaan sementara penyebarannya melalui unggas.

Kasus yang tidak kalah penting adalah munculnya antraks di daerah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, yang menyerang kambing dan domba. Penyakit ini sangat meresahkan masyarakat karena dapat menyebabkan kematian yang cukup besar. Penyakit antraks menyerang berbagai jenis hewan, seperti sapi, kambing, domba, babi, kuda, kucing, dan burung unta.

Contoh lainnya adalah rabies, salah satu penyakit zoonosis yang sudah dikenal masyarakat dari zaman dulu dan biasa terjadi pada orang yang terkena gigitan anjing yang positif terhadap penyakit ini. Dulu penyakit ini menjadi momok bagi masyarakat, terutama di pedesaan, yang populasi anjing liarnya masih sangat banyak.

Zoonosis pada satwa liar

Cara yang paling mudah untuk melihat berbagai jenis satwa liar adalah ke kebun binatang. Di sanalah kemungkinan paling dekat terjadinya penularan penyakit zoonosis yang ada pada satwa liar kepada manusia. Interaksi terbesar manusia dengan satwa liar akan terjadi karena pengunjung sering kali memberi makan atau menyentuh satwa di dalam kandang atau berpotret bersama satwa yang ada. Hal-hal seperti ini bukan saja memberi hiburan dan kesenangan, tapi juga memberikan kesempatan bagi penyakit untuk menular jika ternyata satwa tersebut mengidap penyakit yang zoonosis.

Penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh satwa liar tersebut tidaklah sedikit. Beberapa penyakit zoonosis yang paling umum menyerang satwa liar di antaranya tuberkulosis, streptococcosis, salmonellosis, rabies, leptospirosis, toksoplasmosis, psittaccosis, taeniasis, dipilidiasis, herpes-B, dan hepatitis. Beberapa penyakit itu pernah dilaporkan menyerang satwa liar yang ada di Indonesia.

Mengapa penyakit satwa liar bisa sampai ke manusia

Banyak faktor dapat memicu penyakit hinggap pada hewan, bahkan satwa liar yang bebas di alam sekalipun, apalagi dalam kondisi terkurung. Penyakit dapat menyerang terutama pada kondisi satwa yang lemah, stres, lingkungan yang kotor, serta perawatan satwa yang kurang baik.

Ada beberapa metode berbeda untuk mengetahui penularan penyakit zoonosis dari satwa kepada manusia. Pada beberapa kasus, penyakit zoonosis ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pada kasus lain dapat dijumpai penularan melalui air minum yang mengandung telur dari parasit yang zoonosis--biasanya pada kasus yang berhubungan dengan cacing pita (taeniasis).

Cara penularan yang lain dapat melalui vektor insekta (serangga), contohnya melalui tungau (flea) atau kutu (tick) yang termakan oleh hewan yang terinfeksi kemudian termakan oleh manusia. Pada prosesnya, serangga tersebut mentransfer organisme infeksius.

Penyakit zoonosis tersebut sering berakibat fatal, baik bagi hewan atau satwa itu maupun bagi manusia. Namun, kita sering tidak mengetahui bahaya yang mengancam apabila terserang penyakit karena terkadang kurang awas dan tidak tahu. Sering kali kita baru menyadari setelah dilakukan pemeriksaan lengkap seperti halnya pada kasus toksoplasmosis. Penyakit ini tidak cukup hanya didiagnosis berdasarkan gejala klinis yang muncul, tapi baru dapat dipastikan setelah dilakukan pemeriksaan darah dengan metode yang tepat.

Hewan dan manusia memang sebaiknya tidak hidup berdampingan, terkecuali kita sudah memastikan bahwa hewan tersebut dalam status sehat. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah penyakit zoonosis ini, di antaranya dengan vaksinasi, pemeliharaan yang benar, dan lingkungan hewan itu yang harus selalu terjaga kebersihannya. Untuk satwa liar yang sudah keluar dari habitatnya, seperti di kebun binatang, sebaiknya faktor manusia sebagai pengunjung harus lebih berhati-hati dan tidak gegabah untuk bersentuhan dengan satwa yang ada.

Penulis : Anang Setiawan Achmadi (Pusat Penelitian Biologi LIPI)
Sumber : Koran Tempo (12 Desember 2005)

Diakses : 4356