Adaptasi Kenormalan Baru Melalui Perspektif Tiongkok

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Tiongkok mengadakan Webinar pada Senin (24/8) dengan tujuan untuk membangun pemahaman publik terkait kebijakan politik luar negeri yang berkaitan dengan adaptasi kebiasaan baru. Webinar ini merupakan seri ke dua dari the Ambassador Talk with Scientist dan mengusung tema Life in the Time of Pandemic.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa pada masa normal baru LIPI menerapkan protokol kesehatan yang mengacu pada Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 58 Tahun 2020 dengan menerapkan sistem kehadiran 20% bagi pegawai sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Selain itu LIPI juga terus melakukan riset dan pengembangan dalam percepatan penanganan COVID-19, di antaranya adalah pengembangan Autonomous UVC Mobile Robot (AUMR), uji klinis herbal sebagai immunomodulator, pengembangan deteksi dengan metode reverse transcription loop-mediated isothermal amplification (RT-LAMP), serta alat terapi oksigen beraliran tinggi pertama di Indonesia Gerlink-LIPI High Flow Nasal Canula 01 (Gerlip HFNC-01).

Turut hadir dalam webinar, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, H.E Xiao Qian, yang memberikan pemaparan mengenai kerja sama Tiongkok dan Indonesia khususnya dalam teknologi, serta bagaimana Tiongkok menghadapi normal baru selama pandemi COVID-19. Ia menyebutkan Tiongkok secara terkontrol menerapkan normal baru yang komprehensif seperti early detection, pemantauan, karantina dan perawatan pasien Covid-19, meningkatkan tes PCR dalam skala besar, mengurangi kegiatan dan operasi sistem industri, mengurangi layanan transportasi, mengurangi aktifitas sekolah serta mengontrol jumlah penerbangan ke Tiongkok.

Dubes Xiao Qian menekankan bahwa seluruh dunia perlu bersatu dalam melawan pandemi global dengan kerja sama menemukan vaksin serta mengesampingkan isu politik serta stigma-stigma negatif terkait COVID-19. “Wabah sekali lagi menunjukkan bahwa virus tidak mengenal batas dan ras, dunia adalah desa global, persatuan diperlukan untuk mengalahkan virus, sumber virus adalah masalah ilmiah yang serius, politisasi dan stigmatisasi harus dilawan”, ujar Dubes Xiao Qian.

Ia berharap kerja sama Indonesia dan Tiongkok kedepannya semakin erat dan dapat terjalin dengan baik dalam berbagai bidang termasuk dalam kerja sama vaksin sehingga dapat bermanfaat bagi kedua negara dalam menanggulangi serta mencegah penyebaran COVID-19.

Webinar ini dipandu oleh Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ratih Asmara Ningrum, dan diikuti oleh lebih dari 300 peserta baik melalui Zoom Meeting ataupun YouTube Channel LIPI. (wis/ed:sr)
 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.