Ancaman Perairan Tawar Indonesia dari Sungai Amazon

 
 

Cibinong, Humas LIPI. Penemuan ikan Arapaima gigas di sungai Brantas, Jawa Timur pada Senin (25/6) lalu mengundang perhatian banyak pihak. Ikan yang merupakan ikan air tawar endemik sungai Amazon di Amerika Selatan ini sebetulnya terlarang untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 41 tahun 2014. Apa yang membuat ikan yang dapat tumbuh sampai ukuran empat meter dan berat ratusan kilogram ini berbahaya sehingga keberadaannya menjadi ancaman ikan-ikan asli Indonesia?

Masyarakat sekitar Amazon menyebut Arapaima gigas dengan sebutan Pirarucu atau ikan merah. Penamaan ini berdasarkan pancaran kemerahan dari sisik-sisik ke arah ekor dan juga warna kemerahan-oranye dari dagingnya.  “Arapaima gigas sangat berbahaya bagi ikan asli Indonesia karena bersifat predator”, ujar peneliti bidang iktiologi atau biologi ikan dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Renny Kurnia Hadiaty. Menurut Renny, Arapaima gigas tidak hanya memangsa ikan, tapi juga udang, katak, bahkan burung yang terbang di dekat permukaan air.

Keberadaan Arapaima gigas dapat menjadi kompetitor bagi ikan asli dalam mendapat makanan maupun pemanfaatan ruang bila ukurannya sama dengan ikan asli. “Mengingat ukurannya  yang besar, tentu bisa menghabiskan fauna akuatik asli di perairan tersebut. Apalagi dengan daya adaptasi di lingkungan yang buruk dengan kadar oksigen rendah sekalipun serta kemampuan bereproduksi yang dapat mencapai 50 ribu butir dalam sekali pembuahan,” tutur Renny.

Menurut Haryono dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, di negara asalnya ikan ini sudah mengalami overfishing hingga pemerintah Brasil telah mengeluarkan larangan untuk menangkapnya sejak tahun 2001. “Namun penangkapan secara ilegal masih terus berlanjut hingga diduga populasinya semakin menurun,” terangnya.

Arapaima gigas sendiri masuk dalam daftar Convention International Trade in Endangered (CITES) dan tergolong Appendix II. Artinya Arapaima gigas ini belum mengalami kepunahan, namun harus dikontrol perdagangannya untuk mencegah hal-hal yang berimbas pada kelestarian dan keberadaannya di alam.

Dirinya menyarankan agar Arapaima gigas yang ditemukan di perairan tawar Indonesia segera ditangkap dan dikeluarkan dari wilayah Indonesia. “Kami juga berharap agar ada sosialisasi intensif terkait Perauran Menteri Kelautan dan Perikanan pada para pelaku, pengusaha dan pemelihara ikan hias. Juga perlunya sanksi tegas bagi para pelanggar aturan tersebut,” tutupnya. (Pusat Penelitian Biologi LIPI/ed: fza,dig)

 
 


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dra. Renny Kurnia Hadiaty