BERPRESTASI DI USIA MUDA

 
 

Baru-baru ini sejumlah pelajar kita berhasil mengharumkan nama bangsa dan negara. Sebagian mereka berhasil memenangkan lomba penemuan di ajang Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Bangkok, Thailand. Sementara itu salah seorang pelajar kita berhasil meraih medali emas di ajang science di Amerika Serikat. Sungguh prestasi yang membanggakan.

Linus Nara Pradhana misalnya. Pelajar yang baru berusia 13 tahun itu berhasil meraih medali emas di Bangkok Thailand. Nara, demikian ia akrap disapa, yang masih duduk di kelas 8 SMP Petra V Surabaya itu menciptakan helm yang berpendingin. Awalnya saya prihatin melihat helm ayah saya yang sangat panas jika digunakan di keramaian lalu lintas di Surabaya, kata Nara memberi alasan ide awal membuat helm berpendingin. Berbagai percobaan ia lakukan, seperti memasukan air di atas bagian helm dan membungkus dengan kain basah, namun upaya itu belum berhasil. Nara yang bercita-cita menjadi penerbang itu akhirnya memasukkan sejumlah gel diatas bagian permukaan helm. Ternyata saya berhasil membuat helm yang dingin, ujar Nara bangga.

Sementara itu dua pelajar dari Yogyakarta tidak mau kalah dengan Nara. Muhammad Luqman dan Faisal Fuad Rachman berhasil meraih medali perunggu pada perlombaan yang sama. Kedua pelajar itu berhasil menciptakan sepatu bermata dua bagi penyandang tunanetra. Cara kerja alat itu adalah ditempelkan pada sepatu dan membaca sensor warna. Dengan alat ini saudara kita yang tunanetra tidak memerlukan tongkat lagi. Luqman dan Faisal mengakui temuannya, sepatu bermata dua ini memang masih memerlukan perbaikan dan penyempurnaan.

Acungan jempol mungkin layak kita berikan kepada Muhammad Luthfi Nur Fakri. Melalui temuannya, pelajar SMA Negeri I Bogor, Jawa Barat itu menyabet medali emas di ajang lomba science di Amerika Serikat. Luthfi yang saat ini berusia 16 tahun itu menemukan alat pendeteksi pemakaian pupuk atau Digital Leaf Color Chart. Alat yang berupa pembaca digital itu jika ditempelkan ke daun, maka akan muncul angka yang merupakan dosis atau takaran pemakaian pupuk. Dengan demikian petani tidak meraba-raba jumlah pupuk yang akan digunakan. Alat ini sangat membantu para petani, ujar Luthfi bangga. Kegigihan Luthfi menciptakan alat ini patut ditiru. Karena ia pantang menyerah walau sering gagal hingga ratusan kali.

Makin banyaknya para perokok yang merokok sembarangan dan bahaya yang ditimbulkannya membuat prihatin dua sahabat Hermawan Maulana dan Zihramma Afdi. Dua pelajar SMA Negeri III Semarang, Jawa Tengah itu membuat alat pengurai asap rokok menjadi oksigen. Dan, lagi-lagi alat yang diberi nama T-Box Application to Reduce the Danger Impact of CO dan CO2 in Smoking Room itu menyabet medali emas pada lomba yang digelar di Bangkok, Thailand pada Juni lalu. Secara sederhana alat ini menyaring atau menghisap asap rokok yang ada dalam ruangan dan menyaringnya kedalam suatu ruangan yang sudah diberi alat tersebut. Asap yang dihisap itu kemudian diurai. Nikotinnya akan menempel ke dalam medan magnet yang dialiri listrik dan asap yang sudah disaring tadi kemudian dihembuskan lagi ke ruangan semula, papar Hermawan dan Afdi ketika menerangkan cara kerja T Box. Sepintas T Box ini cocok digunakan di ruang merokok di perkantoran atau di pusat perbelanjaan.

Prestasi pelajar-pelajar Indonesia ini memang membanggakan. Sudah selayaknya kita memberikan apresiasi dan kemudahan-kemudahan, baik itu berupa sarana penelitian atau bantuan biaya pendidikan sampai mereka bisa menuntaskan cita-citanya. Jika kita abai, dikhawatirkan bibit-bibit unggul itu akan hijrah dan menetap di luar negeri seperti kebanyakan ilmuwan kita saat ini.
Sumber : K!ck Andy, 3 Agustus 2012

Diakses : 1854