BUS LISTRIK: Pemprov DIY proyeksikan Trans Jogja akan gunakan bus listrik LIPI

 
 
YOGYAKARTA Pemprov DIY segera melakukan uji coba bus listrik buatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada awal 2013 yang akan digunakan sebagai angkutan massal Trans Jogja.

Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto mengatakan pemprov akan melihat dulu efektifitas bus tersebut, jika tertarik dengan bus senilai Rp1,5 miliar itu, proyeksinya untuk angkutan umum massal Trans Jogja.

Sampai sekarang, lanjutnya, belum ada kesepakatan dengan LIPI karena belum lama ini dipresentasi kepada Dinas Perhubungan DIY dan akan dilanjutkan untuk menguji coba di lapangan guna melihat secara langsung efektifitasnya dan termasuk harga.

Tavip belum tahu apakah nanti akan digunakan untuk Trans Jogja atau yang lain. Tapi yang jelas akan dipertimbangkan untuk Trans Jogja.

Kita belum lihat untuk Trans Jogja atau tidak. Kalau feasible bisa gantikan Trans Jogja atau melengkapi jalur yang kurang. Kita pertimbangkan setelah tahu feasible tidaknya, ujarnya hari ini. (Kamis 11/10)

Seperti dikutip dari tempo.co, harga satu bus mirip dengan Isuzu Elf atau Mitsubishi Colt Diesel berkapasitas 15 penumpang ini harganya mencapai Rp1,5 miliar. Harga itu mengabaikan investasi yang dikucurkan pada penelitian sebelumnya.

Menurut Ketua Tim Peneliti LIPI Abdul Hafid, perlu baterai lithium 100 cell untuk menghasilkan daya listrik 320 volt DC agar kendaraan ini bisa bergerak 90 kilometer per jam.

Hafid menambahkan, daya ini lebih besar ketimbang versi purwarupa 2011 yang memakan listrik 140 Volt DC. Mobil listrik ini menggunakan baterali lithium 100 cell. Sekarang jarak tempuhnya maksimal 150 kilometer, tuturnya.

Dengan demikian, biaya baterai mengambil proporsi 40 persen dari ongkos produksi. Sumber energi lithium ini memiliki kapasitas penuh 53 kilowatt hour. Untuk mengisi dayanya diperlukan waktu 30 menit hingga 5 jam.

Namun Hafid optimistis mobil ini mampu menarik peminat terutama pengusaha transportasi lantaran bisa menekan biaya operasional 50 persen dibanding mobil biasa.

Dia menjanjikan biaya perawatan bisa ditekan 70 persen. Kami menghilangkan beberapa bagian, seperti filter dan tidak pakai oli mesin, ujarnya.

Pemprov akan melihat beberapa pertimbangan untuk menilai bus listrik tersebut, mulai dari wujud, daya tampung, hitungan ekonomis terdiri dari harga dan Break Event Point (BEP), dampak terhadap lingkungan dan sebagainya. Jika semuanya sudah cocok baru akan ditindaklanjuti.

Dari pengamatan untuk menganalisa bus itu akan mengajak Pustral UGM dan Stakeholder angkutan umum yakni Organda DIY. Mereka akan memperhitungkan kemampua baterai yang bisa dipakai, kapasitas maksimal, kecepatan, keamanan maupun keselamatan.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menargetkan produksi mobil listrik dalam jumlah terbatas dilakukan pada awal 2013 dan produksi mobil secara massal baru dilakukan pada 2014.

Akan lebih dulu untuk jenis sedan, sedangkan bus akan terus dikembangkan. Nanti akan dipakai dulu oleh instansi pemerintah, ujarnya. (JIBI/Harian Jogja/aan/rsj)
Sumber : Bisnis Indonesia (bisnisjateng.com) - Kamis, 11 Oktober 2012

Diakses : 1644