Bambang Prihandoko, Peneliti Baterai Khusus Ponsel

 
 

Salah Racik Bahan Kimia, Dua Kali Meledak

Bambang Prihandoko adalah sosok yang pantang menyerah. Peneliti senior bidang fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu pernah mengalami kejadian-kejadian dramatis saat sedang meneliti baterai lithium khusus telepon seluler (ponsel). Bagaimana kisahnya

Udara di kawasan Serpong, Kabupaten Tangerang, pukul 12.00 kemarin, cukup membuat siapapun berkeringat. Hawa di wilayah Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) itu panas dan sangat lembab. Namun, suasana seperti itu tak membuat Bambang Prihandoko patah semangat. Peneliti senior LIPI bidang ilmu-ilmu fisika itu masih senang bergelut dengan pekerjaannya.

Ya, Bambang dikenal sebagai salah seorang pakar peneliti spesialis baterai ponsel. Dia mengkhususkan diri bidang baterai berjenis lithium. Hasil dari penelitian yang digelutinya dalam beberapa tahun ini yakni dapat memperpanjang daya tahan baterai. Dia mematenkan hasil karyanya di Direktorat Hak Atas Kekayaan Intelektual Depkeh dan HAM bernomor ID 00195521.

Karya ilmiahnya yang berjudul Penambahan LiClO4 dalam Meningkatkan Konduktivitas Elektrolit Lithium Titanium Alumunium Fosfat (LTAF) inilah yang kian menasbihkan dirinya sebagai pakar dalam hal baterai handphone.

Tentu saja, penelitian yang dilakukan pria kelahiran Pasuruan, 25 Desember 1965 itu panjang dan berliku. Sambil mengenakan seragam putih yang lazim dikenakan peneliti didalam laboratorium, mengaku, hasil penelitiannya itu diharapkan berguna terhadap perkembangan teknologi ponsel saat ini.

Bambang mengisahkan, ketertarikannya melakukan penelitian tentang baterai lithium ini dimulai saat dirinya mengambil gelar sarjana di TU Delft di Belanda sejak 1988. Dia mengambil bidang material tunda dan lulus pada 1998.

"Saya kuliah di Belanda hampir 10 tahun hingga master tetapi kembali ke Indonesia gelar pascasarjana tidak diakui jadi saya kuliah lagi di Fakultas Teknik Universitas Indonesia lulus 2005, " ungkap suami dari Wiwik Prisetiatina ini.

Menurutnya, saat di Belanda dirinya telah fokus mengambil penelitian tentang baterai. Sementara beberapa peneliti lainnya lebih memilih untuk meneliti tentang fuel cell. "Oleh beberapa dosen pembimbing, saya diarahkan ke penelitian tentang baterai lithium, " ucapnya.

Bambang melanjutkan, dengan konsentrasi pada baterai lithium tersebut dirinya kini berhasil membuat paten atas namanya. Sebelum berhasil mendapatkan paten, Bambang mengungkapkan dirinya juga melalui proses trial and error untuk mencari komposisi yang tepat. "Dua kali saya meledakkan furnitur laboraturium di Belanda sebelum menemukan komposisi yang jelas, " ungkapnya.

Menurutnya, selain menimba ilmu di Negeri Kincir Angin tersebut, sebelum kembali ke Indonesia dirinya membawa dua "cinderamata ". Apa saja Ternyata, cinderamata yang dimaksud adalah dua anak, bernama Farisah Adami dan M Dzulqarnain.

"Dua putra saya yang lahir di Belanda begitu sampai di Indonesia mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi di Indonesia, mereka sempat mengalami penyakit kulit, " ucapnya.

Dijelaskan, saat ini dirinya tengah mencari komposisi yang tepat dari hasil penelitiannya untuk digunakan skala besar atau industri yang akan digunakan untuk keperluan dalam negeri. Dirinya tidak bersedia menjual hasil karyanya kepada bangsa lain.

Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan maka bangsa Indonesia tidak dapat menikmati hasil karyanya. "Kalau sampai dijual kebangsa lain, sama saja jual tanah air, " katanya.

Dirinya memimpikan, ke depan jika penelitian tersebut benar-benar stabil, keuntungan dari penelitiannya dapat dinikmati bangsa ini. "Bayangkan berapa banyak perusahaan-perusahaan yang dibangun untuk membuat material yang dibutuhkan untuk alat tersebut. Berapa banyak tenaga kerja yang mampu diserap, " pungkasnya.

Penulis : Anzar Rasyid
Sumber : Jawa Pos (30 Agustus 2007)

Diakses : 1244