Baterai Drop karena Over Charge

 
 

BATERAI lithium adalah baterai yang paling baik dari segi ketahanannya sebagai media penyimpan energi. Karena keunggulannya tersebut, Bambang Prihandoko, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI tertarik untuk membuat sendiri jenis baterai lithium. Hasilnya pada 2001, sebuah prototipe lembaran-lembaran lithium berwarna hitam dan putih setipis kertas berhasil dibuat dan dapat diproduksi secara lokal untuk membuat baterai lithium dalam negeri.

"Setelah sertifikat patennya keluar pada Juni 2007 ini, rencana saya akan membuat prototipe yang lebih sempurna untuk selanjutnya dicarikan investor, " kata Bambang. Dia meyakini, temuannya tersebut akan menjadi prospek masa depan yang cukup baik guna memenuhi kebutuhan perangkat baterai alat elektronik yang cukup tinggi.

Lithium adalah unsur pencetus elektron yang cukup potensial dan sangat baik. Listrik ini timbul karena adanya aliran elektron karena perpindahan lithium. Secara teori dari para ahli fisika, bahwa lithium akan berpindah ke grafit dan posisinya digantikan oleh energi listrik (elektron). Kondisi ini akan tercipta (dimana elektron mengisi tempat lithium) saat baterai diisi ulang.

Lain posisi saat baterai digunakan, lithium yang berada di grafit, posisinya kan kembali ke ke tempat asalnya dan elektron bergerak menjadi listrik. Sehingga suatu saat, baterai akan kosong, penuh kosong dan penuh lagi. Untuk itu aliran listrik tercipta dan siklus tersebut dapat terus terulang.

"Ada yang perlu diperhatikan saat pengisian ini, " kata Bambang. Lithium juga merupakan bahan peledak. Dalam kapasitas terlalu tinggi karena over charge baterai dapat meledak. Pemicunya adalah elektrolit yang berupa lithium perklorat (juga merupakan bahan peledak) dan lithium sendiri. Meski tidak berbahaya, namun ia menyebutkan, agar saat pengisian ulang memperhatikan waktu.

Lithium akan tergantikan posisinya oleh elektron. Batas standarnya pada beberapa baterai biasanya mencapai 4,2 volt. Dalam contoh yang ia misalkan jika pengisian setelah rentang waktu dua jam pengisian telah penuh, maka arus harus diputus. Jika tidak akan terjadi pemanasan. Biasanya suhu toleransi hingga 60 derajat, selebihnya baterai akan rusak dan mungkin meledak.

Untuk itu, kata Bambang, pada baterai dipasang sirkuit stabilisator dan sensor pemutus aliran pada alat pengisian ulang. Namun pada suatu ketika, dua komponen tersebut ada yang tidak beres. Jika hal tersebut terjadi, maka jangan pernah membiarkan baterai lithium tetap pada posisi pengisian ulang. Ini dilakukan untuk antisipasi kejadian yang tidak dinginkan.

Penulis : Agus Dwi Darmawan

Sumber : Jurnal Nasional (31 Agustus 2007)

Diakses : 2349