Di Usia 50 Tahun, LIPI Harapkan Kinerja Lebih Terasa Manfaatnya bagi Masyarakat

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Usia 50 tahun adalah usia yang matang bagi sebuah institusi. Karena itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) harus bisa menunjukan hasil kinerja yang lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat. Inilah yang menjadi fokus perhatian Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain saat membuka Rapat Kerja LIPI Tahun 2017, Rabu (1/3), di Jakarta.
 
Iskandar mengatakan, rapat kerja tahun ini harus fokus pada rencana koordinasi dan implementasi yang konkrit tentang isu penelitian apa yang harus dijawab permasalahannya. “Refocusing program harus sampai pada permasalahan mendasar. Selain itu, branding yang ingin dibentuk ke lembaga harus mempunyai ikatan emosional, tidak hanya sebatas branding untuk dikenal orang semata,” tekannya.
 
Dirinya mengharapkan, penyusunan program kerja juga harus berubah. Artinya ketika program penelitian disusun, maka harus dipikirkan sampai siapa pengguna dan nyata manfaatnya. Tak hanya itu, sebuah penelitian juga sudah harus mencakup diseminasi. “Jangan setelah selesai baru berpikir diseminasi. Jangan ada lagi yang bicara tugas peneliti hanya meneliti, tapi harus berpikir kegiatan yang holistik,” tuturnya.
 
Intinya adalah setiap program kerja yang disusun setidaknya mencakup dua aspek. Pertama, memiliki kontribusi ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat global. Dan kedua, memberikan dampak yang membawa perubahan positif.
 
Kepemimpinan
 
Pada sisi lain, Iskandar menyoroti pula soal aspek kepemimpinan bagi keberhasilan implementasi program kerja yang telah disusun. “Saya harapkan setiap kepala satuan kerja dalam menjalankan program tidak cukup sebagai manajer saja, tapi harus menjadi leader dan desainer,” pesannya.
 
Menurutnya, pemimpin tidak cukup hanya kemampuan akademis dan intelektual semata. Seorang pemimpin juga harus mampu menjadi leader dan pendesain yang bisa menggerakkan sivitas mencapai tujuan dari program yang dicanangkan. Dan, tentunya harus dipikirkan pula bahwa setiap sivitas yang dipimpin bukanlah robot, namun manusia yang mempunyai keyakinan dan nilai-nilai dimana tercermin dari tingkah lakunya.
 
Untuk diketahui, rapat kerja kali ini secara garis besar mengharapkan perencanaan program kegiatan agar menampilkan apa yang bisa diberikan LIPI dalam bentuk kontribusi ilmiah yang signifikan serta dapat memberikan dampak nyata untuk pembaruan. Rapat kerja mengambil tema Re-Design Program Kegiatan LIPI dalam Upaya Peningkatan Kinerja LIPI.
 
Terdapat dua komisi dalam rapat kerja tersebut, yaitu Komisi Program dan Komisi Branding. Komisi Program fokus membahas roadmap kegiatan prioritas 2018-2019. Sedangkan, Komisi Branding fokus membahas strategi branding LIPI dengan mengidentifikasi persepsi masyarakat dan stakeholders atas kinerja LIPI, serta menyusun roadmap diseminasi iptek LIPI.
 
Rapat kerja ini dihadiri oleh para Pejabat LIPI Eselon I, II dan III, serta para Kepala LIPI terdahulu dan undangan khusus lainnya. Rapat Kerja diselenggarakan pada 1-2 Maret 2017 di Hotel Santika, TMII Jakarta Timur. Rapat kerja tersebut menghadirkan pembicara kunci Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Rusnadi Padjung, Ph.D.
 
Dalam paparannya, Rusnadi mengatakan perlunya pemerataan ekonomi melalui peningkatan ekonomi desa melalui program ‘one village one product’. “Setiap desa akan memiliki produk unggulan masing-masing, sehingga tidak ada persaingan antar desa. Untuk itu, perlu posisi iptek melalui peran peneliti dalam mendayagunakan sumber daya desa secara efektif dan efisien ,” pungkas Rusnadi. (isr/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain
Diakses : 1060