Dr. Laksana Tri Handoko : Pencari Partikel Higgs yang Tidak Komersial

 
 

Menjadi peneliti di Indonesia bukan hal mudah. Terlebih kalau penelitiannya dinilai tidak komersial. Namun fakta ini tidak menghalangi Dr. Laksana Tri Handoko untuk terus melakukan pencarian partikel Higgs, sebuah partikel yang sampai saat ini belum ditemukan.

Pencarian partikel ini sama dengan memahami apa yang terjadi di alam semesta. Jika diketahui sifatnya maka akan bisa diketahui gunanya. Saya ingin menjadi orang pertama yang menemukan partikel misteri ini, ujar Laksana kepada SH menjelang presentasi karya tulisnya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, awal pekan ini. Obsesi ini pula yang membawa lelaki kelahiran 7 Mei 1968 tersebut menjadi finalis pemilihan peneliti muda 2002 bidang ilmu pengetahuan dan lingkungan LIPI 2002. Namun lelaki bersahaja ini justru sama sekali tak berharap terpilih menjadi peneliti muda pada institusi tempatnya bekerja.

Mereka menitikberatkan pada teknologi tepat guna, suatu temuan yang aplikasinya langsung bisa dirasakan manfaatnya. Sedangkan penelitian saya masih bersifat pencarian, pembuktian teori yang sudah ada, lanjut anak satu dari empat bersaudara ini.

Biaya Sendiri

Partikel Higgs merupakan satu-satunya partikel yang belum dibuktikan secara praktik. Fenomena ini tak ubahnya dengan teori Big Bang Stephen Hawking, yakni secara teoretis ada namun eksistensinya belum terbukti. Adalah Peter W. Higgs, fisikawan Skotlandia yang mengemukakan teori ini pada tahun 1964. Dengan mengambil teori elektromagnet sebagai model, ia menguraikan cara memberikan massa pada foton dengan menggunakan kiat perusakan kesetangkupan spontan (spontaneously symmetry breakdown).

Sejak dua tahun silam, Laksana tekun melakukan penelitian di laboratoriumnya untuk menemukan partikel misteri ini. Ia melakukannya dengan proses peluruhan atom meson dengan elektron lepton positif dan lepton negatif.

Menurut sarjana S3 dari Universitas Hiroshima, Jepang ini, peluruhan terjadi pada saat partikel yang lebih besar bertemu dengan partikel lebih kecil. Penelitian ini masih akan terus dilanjutkan sampai partikel Higgs benar-benar ditemukan. Sedangkan dalam karya tulis berjudul Pencarian Partikel Higgs Melalui Fenomena Peluruhan, Laksana banyak menguraikan ikhwal proses peluruhan itu sendiri.

Kendati berprofesi sebagai peneliti di Pusat Fisika LIPI, Pusat Penelitian Teknologi Serpong, Jawa Barat, bukan berarti penelitian ini dibiayai oleh LIPI. Laksana mengaku semua biaya riset laboratorium berasal dari koceknya pribadi.

Mereka hanya mau membiayai penelitian yang tepat guna dan aplikatif. Biayanya cukup besar, sebab peralatan laboratorium sangat mahal, seloroh bapak dari satu putra ini. Tekadnya cukup bulat, menjadi seorang penemu di bidang fisika. Tekad ini pulalah yang membuat Laksana bergumul dengan ilmu fisika teoretis sejak tingkat pertama di bangku kuliah.

Jumlah peminat fisika teoretis di Indonesia bisa dihitung dengan jari. Fakta ini juga yang membuat arek Malang tersebut menjadi semakin bersemangat dengan sejumlah penelitian. Ia yakin, dengan kian sedikit peminat maka harapan untuk bisa tampil sebagai penemu nomor satu kian terbentang lebar. "Makin sedikit akan justru makin tidak ada saingan, " ujarnya disusul tawa lebar. Dari penampilannya yang terkesan santai dan tenang, Laksana tidak memiliki tipikal seorang fisikawan yang terkesan serius dan angker.

Ia tampak tenang dan bersedia ngobrol panjang lebar sebelum namanya dipanggil ke sidang presentasi. Padahal sidang ini yang paling menentukan apakah ia akan terpilih sebagai peneliti muda LIPI atau tidak. Jabatan peneliti muda di LIPI merupakan jabatan bergengsi di mata ilmuwan Indonesia.

Sejak sepuluh tahun lalu, jabatan ini diperebutkan oleh banyak ilmuwan dari pelosok tanah air. Dari ratusan ilmuwan yang mengajukan proposal, hanya sepuluh finalis yang dipilih. Dan dari sepuluh itu akan diperas menjadi satu orang saja.

Saya tak punya obsesi menjadi peneliti muda. Karya tulis ini saya buat karena diusulkan oleh atasan saya. Saya sadar, penelitian saya tidak komersial dan aplikatif, komentar Laksana yang sudah akrab dengan LIPI sejak Lomba Penelitian Karya Ilmiah Remaja (LPKIR) belasan tahun lalu.

Saat obrolan bergulir, tiba-tiba seorang dewan juri memanggil Laksana untuk segera tampil membawakan presentasi karya tulisnya yang tidak komersial itu. Dengan santai dan tanpa beban lelaki ini masuk ke ruang sidang dan obrolan pun usai.
(SH/merry magdalena)

Sinar Harapan (2 October 2002)

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko

Diakses : 1288