Dr. Laksana Tri Handoko, Peraih Habibie Award Bidang Ilmu Dasar 2004 : Hadiah Nobel, Hanya Efek Samping

 
 

MESKI sama-sama sebagai pilar utama perkembangan sains modern, dalam praktiknya fisika teori dan bioscience adalah dua kajian ilmu tidak saling bersinggungan. Ada kesan, keduanya berjalan sendiri-sendiri, sesuai kaidah yang dimilikinya. Bahkan, dalam beberapa peristiwa, keduanya memperlihatkan wujud yang tak bersahabat. Dari sinilah muncul pertanyaan, mungkinkah keduanya bisa bekerja sama dan berkonvergensi pada level kuantum dan organisme elementer sehingga kelak akan muncul sebuah era biokuantum

Pertanyaan inilah yang coba dicari jawabannya oleh Dr. Tri Laksana Handoko bersama koleganya di Grup Fisika Teoritik dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika LIPI. Teori ke arah fusi dua ilmu dasar itu pun dipaparkan Handoko di depan peserta "Meeting of Indonesian Scientist in the 21st Century: Toward Bright and Brilliant Indonesia " di Widya Graha LIPI Jakarta, 18-19 November 2005. Puluhan ilmuwan hadir dan mendengarkan teori tersebut, termasuk Prof. Douglas Dean Osheroff, guru besar fisika Universitas Stanford, AS, yang juga peraih Nobel Fisika 1996.

Menurut Handoro, seluruh teori sains berbasis teori interaksi di fisika partikel. Teori interkasi ini sudah diaplikasikan sejumlah ilmuwan fisika sejak awal abad ke-20. Mereka mencoba menggali pemahaman baru dinamika organisme hidup elementer seperti DNA. Asumsinya, seluruh materi makroskopis pasti terbentuk dari materi mikroskopis. Atau dengan kata lain, teori pada level mikroskopis bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena makroskopis.

"Selama ini perkembangan ilmu hayati (bioscience) mengacu pada trial and error, semuanya selalu harus melalui percobaan karena tak tahu sifat dasar. Makanya, perkembangan ilmu hayati relatif lamban. Nah, dengan sifat dasar fisika pada level elementer, kita bisa memahami mekanisme organisme elementer dan fenomena organisme hidup bisa dijelaskan dan diprediksi dengan akurat, " kata Handoko.

Pendekatan yang sama coba dilakukan Handoko dan grup fisikanya. Dalam hal ini, pendekatan dilakukan berbasis interaksi dan dinamika fluida non-linier. Handoko berhasil mengembangkan metoda baru penanganan dinamika fluida dengan metoda yang telah dikenal di fisika partikel. Dengan memodelkan DNA sebagai materi yang berada dalam suatu medium yang dimodelkan sebagai fluida, diperoleh penjelasan teoritik penurunan besaran amplitudo dinamika DNA yang berperilaku sebagai gelombang soliton.

"Hasil ini merupakan satu contoh kecil kemungkinan konvergensi antara fisika teori dan bioscience pada level kuantum (fisika) dan organisme elementer (ilmu hayati). Ini bahkan berpotensi kemungkinan integrasi antara keduanya, " kata pria yang hobi jalan-jalan ini.

HANDOKO dilahirkan 7 Mei 1968 dan dibesarkan di Lawang, sebuah kota kecil dekat Malang, Jawa Timur. Sejak kecil ia sangat menyukai fisika sehingga tak heran nilai mata pelajaran tersebut selalu tinggi. Hal sebaliknya, ia kurang menyukai kimia dan biologi. "Mungkin karena kimia terlalu banyak praktikumnya, sedangkan fisika teori, tidak ada. Makanya, saya pilih fisika, " kata Handoko.

Setelah lulus SMA, Handoko diterima di Departemen Fisika ITB. Namun, ia hanya tiga bulan mengenyam bangku kuliah di "kampus Ganesha " itu. Tawaran beasiswa dari Yayasan Habibie lebih menarik perhatiannya. Meninggalkan ITB, Handoko pun menghabiskan seluruh masa studinya di bidang fisika teori partikel elementer sejak S1 sampai dengan S3 di Jepang. Ia lulus S1 Fisika dari Universitas Kumamoto, Jepang (1993). Setelah itu, lulus S2 (1995) dan S3 (1998) Fisika Partikel Elementer Teoritik di Universitas Hiroshima, Jepang.

Tak hanya di kedua universitas tersebut, Handoko kemudian berkelana menuai pengalaman di sejumlah lembaga riset terkemuka di bidang fisika partikel. Sebut saja DESY di Hamburg (Jerman), ICTP Trieste (Italia), KEK Tsukuba (Jepang), dan CERN Jenewa (Swiss). Sampai saat ini ia masih terus melakukan interaksi dengan komunitas global. Termasuk menjadi anggota sejumlah organisasi profesi seperti Japan Physical Society (JPS), American Physical Society (APS), Japan Theoretical Particle Physicist Group, Himpunan Fisika Indonesia (HFI), dan Grup Fisikawan Teoritik Indonesia (GFTI). Karena itu, tidak mengherankan bila dalam setahun selalu beberapa kali ke luar negeri untuk melakukan kunjungan riset maupun seminar.

Handoko juga memimpin Grup Fisika Teoritik dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika LIPI, yang merupakan grup penelitian ilmu dasar satu-satunya di lembaga riset pemerintah di Indonesia. Bersama anggota grup tersebut, Handoko melakukan riset berbasis pengetahuan di fisika partikel. Antara lain kajian teoritik fenomena non-linier, komputasi lanjut dan manajemen data selain bidang utamanya di fisika partikel.

Selain di LIPI, Handoko juga aktif di grup penelitian yang sama di Fisika Universitas Indonesia (UI). Grup penelitian tersebut berada di bawah Grup Fisika Nuklir dan Partikel. Grup penelitian di Fisika UI memfokuskan penelitian fisika partikel. Sedangkan grup penelitian di LIPI fokus pada komputasi dan manajemen data. Bahkan, bersama dengan salah satu mahasiswa S3-nya, Andreas Hartanto, Handoko telah mempublikasikan satu-satunya model Teori Penyatuan Agung (Grand Unified Theory) made-in ASEAN dalam sejarah. Teori ini sudah dipublikasikan di jurnal terkemuka Physical Review D71 (095013) tahun ini.

Sejumlah penghargaan pun ia raih. Salah satunya adalah Habibie Award untuk Bidang Ilmu Dasar 2004. Selain itu, Handoko juga menerima penghargaan APICTA Indonesia untuk kategori Research & Development (2004) dan kategori Education & Training (2003). Sebelumnya, pada 2002 ia dinobatkan sebagai Peneliti Muda Indonesia untuk Bidang Ilmu Dasar.

Dengan prinsip open-minded dan tidak segan belajar hal baru bahkan dari mahasiswa, Handoko banyak berkiprah di bidang yang tampaknya "berbeda ". Namun, dari yang "berbeda " itu menghasilkan aneka inovasi baru yang sebenarnya merupakan hasil aplikasi dari "pola pikir " dan pengetahuan dasar sebagai fisikawan teoritik. "Salah satunya adalah sistem database dan manajemen data yang telah diaplikasikan di aneka sarana ilmiah berbasis TI milik LIPI, " jelas Handoko.

Jangan heran jika grup penulis di LIPI telah mendapatkan aneka penghargaan terkait TI, seperti APICTA 2003 dan 2004. Selain itu, grup tersebut juga menerima banyak mahasiswa tugas akhir dari jurusan informatika UI, STT Telkom, dan lain-lain. "Sampai-sampai bagi sebagian orang, saya lebih dikenal sebagai praktisi TI. Sebenarnya kajian terkait bioscience juga merupakan hasil interaksi aktif dengan mahasiswa S2 saya bernama A. Sulaiman, " katanya.

Handoko sangat membanggakan para mahasiswanya. Bahkan kebanggaan tersebut lebih besar daripada terhadap karyanya sendiri. Ia mewajibkan seluruh mahasiswa S1 di bawah bimbingannya melanjutkan studi ke S2. Untuk kemudian melanjutkan studi ke luar negeri melalui aneka beasiswa yang diperjuangkan bersama untuk memperolehnya. Hasil pernikahannya dengan Laila Andaryani, seorang wartawan di sebuah majalah wanita ibu kota, Handoko dikaruniai seorang anak, Ashar Hadi (7).

Informasi lebih detail bisa dilihat di http://lt.handoko.net

  1. Bergambar bersama Julio di Trieste - Itali, salah satu mantan mahasiswa yang melanjutkan studi di ICTP dan saat ini ke Oklahoma State University di AS.

Penulis : Muhtar Ibnu Thalab
Sumber : Pikiran Rakyat (15 Desember 2005)

Diakses : 992