Dua Ahli Fisika Dapat Habibie Award

 
 

JAKARTA - The Habibie Center tadi malam menganugerahkan gelar B. J. Habibie Award 2004 kepada dua ilmuwan berbakat tanah air. Mereka adalah Dr Laksana Tri Handoko dari Pusat Penelitian Fisika LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Dr Wilson Walery Wenas dari Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung. Ini pemberian gelar kali kelima sejak 1999.

Selain menerima medali berlapis emas bergambar foto Baharuddin Jusuf Habibie sebagai pendiri The Habibie Center, kedua ahli fisika ini mendapat hadiah uang tunai USD 25 ribu (sekitar Rp 225 juta). Ini hadiah tertinggi di Indonesia sebagai penganugerahan bidang keilmuan.

Sayang, Habibie berhalangan datang dalam acara yang dihadiri ratusan undangan di Puri Agung Hotel Sahid itu. Tapi, banyak tokoh hadir. Misalnya, Fanny Habibie (adik B. J. Habibie), Mendiknas Bambang Sudibyo, mantan Mendiknas Malik Fadjar, mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro, dan peneliti LIPI Dewi Fortuna Anwar. Pengacara senior Adnan Buyung Nasution, yang pernah menerima Habibie Award, juga terlihat hadir.

Penyerahan B. J. Habibie Award 2004 ini dilakukan Mendiknas Bambang Sudibyo. Sedangkan hadiah cek US$ 25 ribu diserahkan oleh Wakil Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Junus Effendi Habibie.

Penganugerahan gelar dimulai pukul 20.00 setelah ratusan undangan disuguhi film dokumenter lima tahun perjalanan The Habibie Center serta kiprah B. J Habibie, baik di bidang iptek maupun politik. "Ini sumbangan yang tinggi untuk kemajuan iptek di Indonesia, " kata Mendiknas dalam sambutannya.

Kedua ilmuwan yang menerima anugerah tampak ceria. Handoko, mewakili ilmuwan kelompok ilmu dasar fisika, mengucapkan terima kasih atas anugerah itu. "Saya bangga dan bersyukur. Semoga saya bisa mempertahankan prestasi ini demi meningkatkan kemajuan iptek di Indonesia, " ujar lulusan Universitas Hiroshima, Jepang, ini.

Handoko menyelesaikan studi mulai S1 sampai S3 di Jepang. Seusai kuliah, dia jadi peneliti di berbagai lembaga luar negeri. Antara lain, peneliti di International Center of Theoretical Physics di Italia. Akhirnya pada 2001 dia kembali ke Indonesia dan berkiprah di LIPI.

Hal senada disampaikan Wilson. Lelaki yang mewakili kelompok rekayasa fisika ini ingin mendirikan perusahaan teknologi tinggi untuk membantu masyarakat bawah. "Atas bantuan banyak pihak, saya harap bisa mewujudkan perusahaan teknologi tinggi untuk membantu masyarakat bawah, " ucapnya disambut tepuk tangan.

Begitu lulus dari ITB, Wilson menyelesaikan S2 dan S3 di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Dia juga pernah terpilih jadi anggota termuda Photovoltaics International Advisory Committee yang beranggota 20 pakar seluruh dunia.

Selain memberikan hadiah kepada dua ilmuwan itu, Habibie Award 2004 menganugerahkan beasiswa program S3 kepada enam dosen berbagai perguruan tinggi di tanah air. Terakhir, The Habibie Center juga menganugerahi lima pemenang lomba penulisan esai pendidikan tingkat SMU. (ssk/agt)

Sumber : Jawa Pos (1 Desember 2004)

Diakses : 996