Erythropoeitin van Cibinong

 
 

POPULASI penderita gagal ginjal di negeri ini trennya terus saja meningkat. Indikatornya bisa dilihat dari permintaan transplantasi organ yang berfungsi sebagai penyaring kotoran dalam darah ini. Pada 2004 skalanya diperkirakan masih sekitar 4.500 orang. Tapi kini, permintaannya telah membengkak hingga mencapai 10 ribu penderita. Dan yang mengenaskan, agar bisa bertahan hidup, terutama bagi para penderita yang tidak memiliki kesempatan melakukan transplantasi, mereka harus menjalani terapi cuci darah paling tidak sekali dalam seminggu. Padahal, ongkosnya teramat mahal. Ada sejumlah faktor yang memicu menurunnya fungsi ginjal. Lazimnya, sebagai akibat komplikasi karena penyakit hepatitis, tekanan darah tinggi, atau batu ginjal. Dan mereka yang harus menjalani terapi cuci darah, otomatis membutuhkan erythropoeitin, sejenis protein yang mempercepat pematangan sel darah merah pada ginjal. Pasalnya, kemampuan tubuh pada pengidap gagal ginjal untuk menghasilkan zat ini cenderung menurun drastis. Karena produksi erythropoeitin menurun, maka tubuh akan kekurangan sel darah merah, atau yang popular dikenal sebagai anemia.

Dilemanya, hingga saat ini erythropoeitin yang ada di pasaran masih harus didatangkan dari luar negeri. Itu sebabnya, wajar jika harga setiap tetesnya jadi amat mahal. Pasien yang memerlukan sekitar 10 cc erythropoeitin harus mengeluarkan ongkos minimal Rp 2 juta untuk sekali cuci darah. Atau dalam sebulannya bisa mencapai Rp 8 juta. Mahalnya harga erythropoeitin itulah yang mengusik Adi Santosa. Peneliti biologi molekuler dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Jawa Barat, ini segera melakukan serangkaian percobaan membuat erythropoeitin sendiri. Sampai saat ini, penelitiannya sudah mencapai tahap uji coba pada tikus. Mudah-mudahan dalam waktu satu tahun lagi bisa diujicobakan pada manusia, ujar lulusan doktor dari sebuah universitas di Amerika ini. Adi mulai melakukan penelitian itu sejak tiga tahun lalu. Kendati belum mencapai tahap final, tapi penelitian ini sudah dinilai sebagai karya unggulan yang berhasil dikembangkan oleh LIPI. Kelak, jika hasilnya bisa dimanfaatkan oleh manusia, niscaya temuan ini merupakan harapan besar bagi kalangan penderita gagal ginjal. Maklum, berkat karya Adi ini bisa menekan biaya cuci darah jadi lebih murah. Mahalnya harga erythropoeitin, di antaranya karena untuk menghasilkan zat ini masih menggunakan teknik rekayasa bioteknologi yang memanfaatkan sel mamalia, seperti dari sel rahim hamster cina (chinese hamster ovary). Harga setiap mikrogramnya dibanderol US$ 2.200. Ada pula erythropoeitin yang setiap gramnya dijual Rp 80 miliar.

Sementara, erythropoeitin yang tengah dikembangkan Adi yang bibitnya berasal dari Amerika harganya jauh lebih murah, yakni hanya Rp 1 juta per mikrogram. Sebagai modal awal, Adi membawa zat tersebut hanya sebanyak 5 mikrogram. Erythropoeitin ini saya dapat dengan gratis sebagai hadiah dari seorang peneliti asal Prancis, ujarnya. Dan yang menariknya, teknik pengembangan yang tengah dilakukan Adi itu, bisa dibilang, lain dari kebiasaan. Sejatinya, Adi tidak menggunakan media sel mamalia, melainkan memanfaatkan sel tumbuhan dan sel ragi. Jenis tumbuhan yang digunakannya adalah tanaman barley, sejenis shorgum (gandum) yang biasa tumbuh di Amerika. Sementara gen erythropoeitin yang digunakannya berasal langsung dari ginjal manusia. Gen tersebut kemudian disisipkan ke dalam virus yang bernama barley stripe mosaic virus. Lalu virus ini disuntikkan ke dalam tanaman barley. Empat hari setelah itu, tanaman tersebut sudah terinfeksi. Hal itu ditandai dengan berubahnya warna tanaman menjadi lebih muda. Untuk memanen erythropoeitin pada daun tanaman itu, diekstrak dengan cara digerus kemudian diambil airnya. Dan dengan teknik tertentu, erythropoeitin pun bisa dipanen. Hingga mencapai ke tahap ini, Adi hanya membutuhkan tempo penelitian selama lima bulan (Januari-Juni 2005). Rencananya pula, tanaman asli dari Amerika ini juga akan dibudidayakan di kawasan Lembang, Bandung. Pengembangan selanjutnya, Adi mencoba dengan mengembangbiakkan erythropoeitin melalui media ragi khusus, yakni dari jenis metilotropik pichia pastoris. Harganya pun lumayan mahal, per mikrogramnya mencapai Rp 20 juta.

Biaya penelitiannya mencapai Rp 1 miliar

Prosesnya, sebelum dimasukkan ke dalam ragi, gen erythropoeitin terlebih dahulu dimasukkan ke dalam plasmid berupa molekul DNA yang sudah terpisah dari kromosomnya. Setelah itu, plasmid dialiri listrik dengan tegangan hingga 1.800 volt. Langkah berikutnya adalah proses pengembangan di dalam ragi. Hanya dalam tempo tiga hari, erythropoeitin di dalam ragi telah berkembang biak dan siap dipanen. Dalam satu liter larutan ragi bisa dihasilkan 12-20 miligram erythropoeitin. Memanennya dengan cara diekstrak dan menggunakan alat sentrifugal. Cara kerjanya adalah memutar (mengocok) larutan ragi dengan kecepatan tinggi, sehingga erythropoeitin akan terpisah secara otomatis dari larutannya. Sampai di situ bukan berarti penelitian Adi sudah tuntas. Masih ada tahap selanjutnya yang harus dilakukan; menentukan yang terbaik dari dua cara pembuatan erythropoeitin tadi. Ternyata, dari percobaan sebanyak puluhan kali, pengembangan erythropoeitin yang menggunakan ragi lebih produktif sebanyak 25 kali ketimbang yang dihasilkan lewat media tanaman barley.

Adi pun melakukan pengujian untuk membandingkan erythropoeitin temuannya dengan erythropoeitin yang ada di pasaran (di antaranya yang diproduksi oleh Merck-Calbiochem di Amerika). Caranya dengan menguji coba tikus. Untuk itu, Adi membagi kelinci percobaannya menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang disuntik dengan erythropoeitin buatan Merck-Calbiochem, dan kelompok yang diberi erythropoeitin temuannya. Hasilnya, seluruh sel darah merah tikus itu meningkat dalam jumlah yang sama. Artinya, karakteristik erythropoeitin buatan Adi 100 persen sama dengan buatan pabrik. Setelah itu saya baru yakin bahwa saya mampu membuat erythropoeitin, ujar Adi bangga. Sampai saat ini, Adi telah mengeluarkan ongkos untuk seluruh penelitiannya hingga mencapai Rp 1 miliar.

Karena terbilang besar, tentunya seluruh dana tersebut tak berasal dari kocek pribadi, melainkan ditanggung oleh Kementerian Negara dan Riset Teknologi. Dan menariknya, sudah banyak perusahaan farmasi yang tertarik untuk membeli hasil penelitiannya. Kendati begitu, pria yang saat ini berusia 44 tahun itu beranggapan bahwa hasil penelitiannya belumlah sempurna. Sebabnya, Adi merasa yakin bahwa dirinya masih mampu meningkatkan skala produksi erythropoeitin temuannya. Targetnya, paling tidak, bisa digenjot mencapai 1 gram erythropoeitin dari satu liter larutan ragi. Dan harapannya, dalam tiga tahun mendatang, erythropoeitin temuannya sudah bisa diproduksi secara massal. Jika harapan tersebut menjadi kenyataan, niscaya akan meringankan beban biaya yang selama ini harus ditanggung oleh ribuan para penderita gagal ginjal.

Penulis : Eko Edhi Caroko dan Eko Zulham
Sumber : Majalah Trust