Fisikawan LIPI : Menilik Sang Pencetus

 
 

"Memahami Fisika itu tidak hanya di kepala, tapi sampai merasuk kedalam jiwa. "

Udara malam dan tiupan Air Conditioning Balai Bahasa (BBS) Universias Lampung (Unila) yang dingin akhirnya disudahi. Sejenak degup jantung Natural memompa lebih kencang. Setelah mengakhiri wawancara via e-mail dengan Dr Laksana Tri Handoko, kepala Grup Fisika Teoritik dan Komputasi (GFTK), dan Hadiyanto BSc Hons PG Dipl, Kru GFTK, Natural memperoleh ijin bertandang ke GFTK LIPI, Serpong. Namun sebelum itu, Handoko hendak ke Universitas Indonesia (UI) untuk mengikuti Workshop on Theoretical Physics 2K4 (pertemuan ilmiah bagi orang-orang yang doyan fisika). "Wah, pasti banyak Einsteinnya nih, " gumam Natural. Setelah melakukan persiapan yang cukup, Natural segera bergegas ke kampus biru itu.

Di Jurusan Fisika UI, Depok. Saat jeda-jeda acara, sesosok pria jangkung tiba-tiba muncul dari kerumunan belakang dan segera mengambil tempat duduk di barisan depan. Wajahnya tampak tidak asing lagi, mirip sekali dengan foto salah satu kru GFTK yang ditampilkan di Info Unit Kerja pada situs internal Fisika LIPI. Tanpa basa-basi lagi, Natural bergegas menyambangi tempat duduknya.

Pria ini bernama Miftachul Hadi, salah satu kru GFTK LIPI yang sedang menunggu giliran untuk presentasi makalahnya. Setelah mengutarakan maksud kedatangan Natural dengan baik-baik, Miftachul Hadi membolehkan Natural untuk singgah ke pondoknya di kawasan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi (Puspiptek) di Serpong, Tangerang.

Lelah dan Letih

Selesai mengikuti acara, kondisi sudah larut malam. Namun kami serombongan, Natural dan Miftachul Hadi, bertekad untuk meneruskan perjalanan ke pondoknya. Sejurus kemudian, gerimis yang sedari siang membeceki kawasan Depok, mendadak menjadi hujan deras. Terpaksa, kami menunggu sampai hujan reda baru dapat meneruskan perjalanan.

Setelah beberapa jam kemudian, hujan mulai berhenti. Saat itu udara terasa dingin sekali. Kami segera bergegas meneruskan perjalanan, menuju jalan raya.

Untuk menuju pondoknya di Serpong, sebetulnya ada banyak jalan. Namun tugas itu Natural serahkan ke Miftachul Hadi mengingat kondisinya yang masih prima.

Sudah setengah jaman kami berada di jalan raya. Dari jauh tampak sopir angkutan kota jurusan Depok-Ciputat, yang kami tunggu-tunggu memberi isyarat penumpang. Meski kelihatannya sudah penuh, kami memutuskan untuk nekat masuk.

Saat itu kami sudah berada di Ciputat dan ikut terjebak kemacetan lalulintas. Jalannya angkot yang kami tumpangi tampak tersendat-sendat. Karena sudah tidak jauh lagi, kami bergegas turun ke jalan, mencari angkot jurusan Muncul untuk estafet kedua.

Muncul merupakan pertigaan jalan tempat mangkalnya angkot-angkot jurusan Kalideres atau Ciputat. Segera setelah sampai di Muncul, Natural berjalan menuju rumah dinasnya di Mess Puspiptek Serpong, blok II G VIII.

Sederhana

Pagi hari udara terasa murah sekali. Karena semalam sangat gelap, Natural tidak sempat mengawasi keadaan sekitar. Dari dalam rumah, udara bebas menerobos masuk. Karena rumah ini didisain semi terbuka alias full ventilasi. Bila dilihat searah ruang tamu, rumah ini menghadap ke timur. Luas total bagunan ini kira-kira dua setengah kali luas komplek D Dosen Unila.

Untuk keperluan sehari-hari, rumah ini dikapling menjadi tujuh bagian. Tiga ruangan berjajar dijadikan kamar pribadi, masing-masing ditempati Miftachul Hadi, Isnaeni dari kelompok Laser dan Optoelektronik dan Syuhada dari kelompok Fisika Teoritik dan Komputasi (salah satu kru GFTK). Satu ruangan dijadikan kamar mandi bersama, satu ruang tamu, satu untuk dapur dan satu lagi ruangan yang diatapi fiber tembus cahaya sebagai tempat menjemur pakaian.

Penempatan barang-barangnya rapi dan bergaya minimalis sehingga kesan longgar dan sederhana cukup kental disini. Perabot yang digunakan juga seperlunya. Di kolong meja ruang tamu terdapat tumpukan koran. Di pojokan sebelah kiri tampak sebuah kardus tua yang berisi buku-buku tua. Sebagian diantaranya bahkan sudah lapuk dimakan usia.

Udara sejuk berembus celah-celah ventilasi. Meskipun sinar matahari begitu terik, sepertinya suasana disini masih saja sejuk. Sejenak Natural beranjak keluar. Di pekarangan, menyebar aroma segar dari sejenis bambu-bambuan hingga ke dalam rumah.

Setelah puas di luaran, Natural memasuki ruangan Miftachul Hadi. Ruangan yang mirip perpustakaan itu memiliki sederetan buku-buku yang membujur dari pojok utara hingga keselatan ruangan. terdapat semacam rak yang dipenuhi buku-buku bacaan. Kebanyakan buku matematika atau fisika tingkat lanjut (untuk mahasiswa pasca sarjana). Diantara himpitan buku-buku tebal itu tampak buku kalkulus differensial terjemahan Hans J. Wospakrik.

Tepat di depan meja kerjanya terpampang poster besar bertuliskan ICTP (lembaga internasional Abdus Salam untuk fisika teoritik di Trieste, Italia). Rupanya dia dapatkan itu saat Summer School (semacam kursus yang diselenggarakan saat musim panas) tahun 2002 lalu.

Di samping poster ICTP terdapat tabel berisi keterangan seputar partikel elementer yang dikenal menjadi dasar penelitian di Fisika Energi Tinggi atau Fisika Nuklir. Di atas meja kerjanya, terdapat tumpukan buku-buku tebal berbahasa inggris. Selain alat-alat tulis seperti pensil, penggaris atau penghapus, di ujung meja itu juga terdapat pesawat radio kecil, satu-satunya barang elektronik di kamar itu.

Jarum jam di dinding itu belum bergeming dari angka satu. Dia tampak masih khusuk dengan buku foto kopian itu. Tiba-tiba kedua tanganya direntangkan keatas sambil menarik nafas panjang. Puas menghirup udara bebas, ia beranjak ke arah dapur.

Sehabis makan dan berleha-leha untuk beberapa lama, ia tampak meraba-raba buku yang sedari pagi digelutinya.Membuka halaman yang sudah diganjalnya dengan pensil kemudian memelototi persamaan-persamaan itu kembali.

Raut wajahnya tampak serius seperti sedang berpikir keras. Sesekali jari-jarinya tampak menari-nari diatas selembar kertas, menyusun rumus-rumus baru seperti yang sering dilakukan dosen-dosen fisika saat kuliah. Malam hari, sehabis sholat Isya, sembari membaca sesekali mulutnya menyeruput teh manis yang ada di sampingnya.

Di dinding kamarnya banyak sekali dijumpai kata-kata mutiara. Salah satunya yang menarik perhatian ditulis seperti ini. "One Night Means Alot ". Rupanya apresiasi dia terhadap waktu sangat tinggi hingga waktu satu malampun terasa berharga baginya. Itu bisa dimengerti, mengingat umur manusia memang terbatas sedangkan prestasi , yang tidak mengenal batas, harus diraih dalam usia yang terbatas itu.

Sebuah Pilihan

Menjelang tengah malam, usai membayar PR nya untuk hari ini, Miftachul Hadi mulai membuka obrolan dengan Natural. Dari perbincangan yang biasa-biasa itu, mengalir lancar sepenggal cerita bak epos petualangannya saat menekuni fisika teoritik. Menurut Miftachul Hadi, butuh pemahaman matematika yang kuat untuk memahami fisika. "Bila perlu sapu bersih satu buku, " komentarnya.

Ia juga menambahkan syarat "suka " sebagai modal awal menggeluti bidang ini. Untuk itu, dia kutipkan kata-kata dari pembimbing S2 nya, Dr Hans J Wospakrik, fisikawan dari ITB, tentang kesungguhan niat belajar fisika, "(niat, red) memahami fisika itu tidak hanya di kepala, tapi sampai merasuk kedalam jiwa. "

Apakah harus selalu ingat rumus Mengenai ini, M. Hadi lebih menekankan pada pemahaman mengenai konsep dasarnya. Sampai saat ini ia mengakui bahwa pemahamanya masih banyak yang kurang. Untuk itu ia harus berjuang keras untuk menambal kekurangan-kekurangannya tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan sering berkonsultasi seperti yang dilakukannya pekan-pekan belakangan ini dengan Wospakrik.

Jurnalnya yang berjudul "SU(2) Skyrme Model for Hadrons ", yang dipresentasikan pada Workshop kemarin merupakan hasil bimbingannya dengan Wospakrik.

Meski hidupnya terkesan sederhana, Miftachul Hadi menganggap itu tidak menjadi persoalan utama. Salah satu ungkapan yang sering didengungkannya bahwa pada dasarnya "keperluan manusia itu terbatas, kebutuhanlah yang tiada batas. " Saat ini, nama-nama seperti hadron, muon atau bossom lah yang kian akrab di telinganya. Jauh berbeda dengan bugenfil, mawar atau melati yang menjadi ke-gemarannya, empatbelas tahun silam.

Penulis : Andri Sofyan Husein
Sumber : Natura X (2004), Fisika UNILA

Diakses : 1300