Ilmuwan Muda Kota Hujan

 
 

Hidupnya seperti kelelawar. Setiap malam kerap mengotak-atik pelajaran sekolah. Hal ini membuatnya berprestasi hingga tingkat internasional.

Dunia pendidikan Indonesia belum lama ini mendapat kabar baik. Kali ini bukan terkait dengan ujian nasional atau menyoal kurikulum pendidikan, melainkan bersumber dari prestasi membanggakan yang ditorehkan Muhammad Luthfi Nurfakhri, siswa SMAN 1 Bogor, Jawa Barat. Siswa kelas XI IPA 4 itu sebulan lalu meraih gelar juara dalam ajang International Science and Engineering Fair (ISEF) yang berlangsung pada 14 18 Mei 2012 di Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS).

Dia meraih juara ketiga untuk penghargaan jenis Grand Award di bidang teknik elektro dan mesin (electrical and mechanical engineering) atas proyeknya tentang sensor optik pengukuran efisiensi pemakaian pupuk nitrogen pada tanaman padi. Atas prestasinya itu, putra dari pasangan Endang Sri Rejeki dan Iyus Hendrawan ini berhak menerima hadiah uang tunai senilai USD1000.Keberhasilan yang dicapai remaja kelahiran Bogor, 6 Oktober 1995 ini tidak datang tiba-tiba.

Menurut Endang, sebelum berangkat ke AS,Luthfi harus menyiapkan alat uji program yang cukup berat untuk ukuran usianya. Pulang sekolah siang, langsung berangkat ke Puspitek Serpong dalam rangka program data, lalu uji alat ke IPB, belum lagi bolak-balik ke sawah jika ada kendala alat yang belum terkondisikan dengan baik. Namun, sekeluarga terus memberinya motivasi, kata wanita yang berprofesi sebagai guru di Sekolah Islam Terpadu Aliya, Bogor ini kepada Seputar Indonesia (SINDO),Jumat (15/6).

Pernah suatu ketika,Luthfi terjatuh di dalam kereta karena mengantuk berat seusai keliling mencari data. Dia bahkan sempat putus asa karena sebelum berangkat terserang demam. Namun, semangatnya bangkit kembali setelah bertemu Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta.Kemudian di antara tiga siswa yang diutus Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut perlombaan,dia didaulat menjadi team leader-nya.

Luthfi yang hobi bermain futsal ini memang sejak SMP kerap mengikuti kompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan. Dia sangat tertarik melakukan riset, terutama bidang teknologi karena dorongan dari ayahnya yang seorang dosen di Institut Teknologi Indonesia (ITI) di Serpong,Tangerang, Banten. Endang mengatakan, anak lakilakinya itu termasuk anak yang kreatif. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan hal-hal yang berkenaan dengan elektro dan mesin.

Suatu ketika, dia pernah menantang ayahnya yang sedang merakit komputer. Setelah selesai dirakit, malah Luthfi membongkarnya dan merangkainya kembali. Dia juga bisa dibilang termasuk anak yang terbuka. Kerap cerita apa pun, baik soal sekolah, penelitian, maupun teman perempuan yang menyukainya.Luthfi juga seperti anak pada umumnya,suka bermain bola,tapi kelebihan dia adalah kuat belajar sampai tengah malam, kata Endang.

Luthfi yang aktif di OSIS ini seperti kelelawar, kata Endang, kalau malam jarang tidur. Ketika malam, banyak dihabiskannya untuk mengotak-atik pelajaran sekolah. Hal ini yang membuatnya berprestasi dalam berbagai lomba karya tulis ilmiah. Sebagai orang tua, kami tak pernah terpikir bahwa tugas-tugas akhir mahasiswa yang dibimbing suami saya,dibaca dan dipraktikkan putra kami, lanjut Endang.

Bahkan, bukan pertama kali ini Luthfi berprestasi dalam riset ilmu pengetahuan. Pada 2008, dengan penelitian berjudul Membuat Kompor Sumbu Berbahan Bakar Metil Ester dari Minyak Jelantah , dia berhasil menyingkirkan lebih dari 500 peserta. Dia meraih peringkat ke-5 lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional yang diadakan LIPI.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Bogor Agus Suherman mengatakan bahwa pihaknya saat ini merasa sangat bangga dapat memiliki anak didik seperti Luthfi, yang bisa mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Apalagi dalam kompetisi kali ini, Luthfi berhasil meraih gelar juara dari ratusan peserta di seluruh dunia, ungkapnya kepada SINDO. Untuk mendukung semua peserta didiknya dalam mencapai prestasi, pihak sekolah telah mendukung mereka melalui dua pembinaan, yaitu pembinaan akademis dan nonakademis.

Pendampingan secara akademis diberikan saat mereka berada di kelas, dan nonakademis diberikan lewat berbagai kegiatan ekstra-kurikuler. Caranya dengan aktif mengirimkan mereka untuk mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional, sehingga secara tidak langsung prestasi siswa SMAN 1 Bogor akan dikenal orang, jelas kepala SMAN 1 Bogor yang ke-12 sejak berdirinya sekolah ini pada 1946. Pihak sekolah sengaja memberikan dukungan untuk kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR).

Melalui KIR ini, para siswa berprestasi kerap melakukan berbagai eksperimen dalam bidang ilmu pengetahuan. Selain itu, ekstrakurikuler ini didukung berbagai mentor andal yang ahli dalam bidangnya. Karena berbagai dukungan tersebut, SMAN 1 Bogor menghasilkan bentukan anak didik seperti Luthfi.

Dia merupakan salah satu di antara anak yang berprestasi di sekolah. Setelah bulan lalu dari AS,kini Luthfi bersama temannya, Cheryl Nazik Cosslett, sejak 9 18 Juni 2012 terpilih menjadi Duta Indonesia dalam program Outstanding Students for the World yang diprakarsai Kementerian Luar Negeri Indonesia yang diadakan di Jepang. cheerli/nafi muthohirin
Sumber : Seputar Indonesia, 17 Juni 2012

Diakses : 1471