Indonesia Perlu Belajar Kesuksesan Negara Lain dalam Pengelolaan Kekayaan Hayati

 
 
Kota Bogor, Humas LIPI. Sejumlah negara di dunia seperti Inggris dan Taiwan telah sukses melakukan pengelolaan kekayaan hayati dengan cara yang tepat. Mereka mampu memaksimalkan inovasi dan teknologi untuk menghasilkan sumber daya hayati yang bernilai ekonomi tinggi (bioekonomi). Misalnya untuk kebutuhan kesehatan, pangan maupun yang lain.
 
Berkaca dari hal itu, Indonesia pun perlu berlajar dari negara lain untuk kesuksesan pengelolaan kekayaan hayati dengan menggunakan inovasi dan teknologi. “Tujuannya adalah agar kekayaan hayati Indonesia yang sangat beragam mampu dimanfaatkan secara optimal dengan pengelolaan yang benar,” kata Bambang Subiyanto, Pelaksana Tugas Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di kegiatan The International Symposium of Bioeconomics on Natural Resources Utilization (ISBINARU) 2017, Kamis (12/10), di Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat.
 
Bambang mengatakan, langkah belajar dari negara lain dalam melihat kesuksesan pengelolaan kekayaan hayati dengan melakukan kerjasama secara intensif. Kerjasama ini ditujukan untuk mempelajari inovasi dan teknologi yang ada di negara lain tersebut. Kemudian, hasil belajar itu bisa diterapkan di Indonesia dengan penyesuaian kondisi yang ada.
 
Di sisi lain, dia katakan bahwa sejauh ini, Indonesia melalui LIPI telah melakukan pengembangan teknologi kekayaan hayati untuk alternatif sumber daya pangan, energi, lingkungan, dan kesehatan. Namun begitu, kolaborasi dan pembelajaran dari negara lain tentang penerapan Iptek dalam pengelolaan kekayaan hayati masih tetap perlu dilakukan.
 
Enny Sudarmonowaty, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI mengimbuhkan terkait hal yang perlu dipelajari dari negara lain adalah tentang bioekonomi. Bioekonomi adalah melihat tren nilai ekonomi dari kekayaan hayati untuk ditingkatkan nilai ekonominya.
 
Dari bioekonomi tersebut, Enny menjelaskan, kekayaan hayati akan menjadi berharga dan diketahui nilai keekonomiaannya. Salah satu contohnya adalah sumber tanaman obat. Tanaman yang tadinya biasa saja, dengan sentuhan teknologi, maka tanaman itu akan ditemukan sumber potensi sebagai obat dan memiliki nilai ekonomi.
 
Dengan banyak menemukan sumber potensi tanaman sebagai obat, maka Indonesia secara perlahan bisa mengurangi ketergantungannya pada impor bahan baku obat. Dab bahkan ke depan, negara ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bahan bakunya dari kekayaan hatinya sendiri.
 
Diungkapkan Enny, bahasan tentang bioekonomi sendiri menjadi salah satu topik utama dalam ISBINARU 2017. Sedangkan topik lainnya menyangkut pangan yang berkaitan dengan teknologi pengolahan, penambahan nilai, keamanan dan keselamatan pangan. Lalu, kesehatan yang meliputi aspek teknologi, produk inovatif, dan jamu. Kemudian, energi berbasis sumber daya hayati. Dan juga ada topik terkait lingkungan yang berkaitan dengan air, konservasi, dan pengelolaan.
 
Sementara itu, ISBINARU menghadirkan sejumlah pembicara penting, antara lain Leuserina Garniati (Herriot Watt University), Shu-Yii Wu (CEO of ACABT, Feng Chia University), Chen-Yeon Chu (Feng Chia University), Bambang Prasetya (Kepala Badan Standardisasi Nasional/BSN), B. Didik Prasetyo (Presiden Direktur PT RNI). ISBINARU sendiri berlangsung selama tiga hari dari 12-14 Oktober 2017. Simposium ini dibuka secara langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala LIPI. (lyr,pwd)



 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati
Diakses : 2053