Investasi Riset dan Sumber Daya Penelitian Masih Minim

 
 
[JAKARTA] Pembangunan infrastruktur di Indonesia dilakukan secara besar-besaran namun di sisi lain investasi riset dan upaya membangun kapasitas sumber daya manusia untuk melakukan penelitian dan pengembangan masih minim.

Hal itu disampaikan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain dalam pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) XI yang digelar LIPI.

Kipnas tersebut resmi dibuka Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (8/10). Hadir pula dalam pembukaan Kipnas XI Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir.

Iskandar berharap hasil Kipnas memberi rekomendasi kebijakan ilmu pengetahuan (science policy) dan peran ilmu pengetahuan dalam kebijakan pembangunan menuju Indonesia sejahtera.

"Hal inilah yang membedakan Kipnas sekarang dengan sebelumnya yang hanya pertukaran informasi ilmuwan di dalam seminar, " katanya.

Iskandar mengungkapkan perubahan sosial saat ini berjalan cepat dinamis dan komplek mendorong menuntut ilmu pengetahuan terus berkembang. Hal tersebut tidak saja menjelaskan berbagai perubahan sosial yang terjadi tapi juga memberi arah perubahan tersebut.

"Tantangan Indonesia saat ini dan ke depan meliputi persoalan demokrasi, desentralisasi, kesiapan hadapi globalisasi membangun kemandirian ekonomi, jaminan sosial dan kesehatan masyarakat. Itulah isu yang teridentifikasi pra Kipnas, " ucapnya.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa Indonesia dinyatakan masuk negara pertumbuhan tinggi dan stabil. Indonesia pun diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia pada tahun 2030. Di kawasan Asean Indonesia masuk raksasa ekonomi dan ditopang populasi penduduk lebih dari 250 juta jiwa.

"Namun demikian jika dilihat dari sisi pembangunan sumber daya manusia (SDM) kita tertinggal. Komposisi ekspor kita sebagian besar adalah produk industri teknologi rendah dan sebagian besar masih dalam bentuk bahan mentah atau setengah mentah, " paparnya.

Sementara impor produk konsumsi terbilang besar. Negara ini pun tambahnya menjadi pusat produksi dan pasar dari sistem produksi global daripada pusat kegiatan penelitian pengembangan (litbang).

Di samping itu, pada tingkat kemajuan iptek di antara negara-negara kawasan Indonesia pengekor perkembangan iptek. Beberapa dekade memperlihatkan dukungan pendanaaan terhadap kemajuan iptek di negara ini semakin menurun demikian pula produktivitas ilmiah belumm sejajar dengan bangsa lain yang lebih maju.

"Kemajuan iptek telah membuktikan dirinya sebagai faktor pendorong utama bagi perkembangan ekonomi satu negara dan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan suatu bangsa, " katanya.

Pengalaman negara-negara maju telah mendukung dan membuktikan dengan ilmu pengetahuan dapat mengolah sumber daya alam dengan efisien dan efektif. Di samping itu juga bernilai tambah dan meraih keuntungan di pasar internasional tanpa harus mengorbankan lingkungan hidupnya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

"Jika kita abai dalam sikapi ini maka kemajuan bangsa kita ke depan hanya menjadi ilusi. Cita-cita besar bangsa ini menjadi bangsa kuat, mandiri dan sejahtera akan tinggal sebagai sebuah utopia, " ujarnya.

Ia pun menegaskan saatnya ilmuwan duduk bersama menata ulang dan membangun strategi demi Indonesia sejahtera dengan melahirkan pemikiran jernih dan konstruktif.

Kipnas ke XI dihadiri 600 peserta Aceh hingga Papua. Melibatkan 13 kementerian dan seluruh Lembaga Pemerintah Non Kementerian, 14 Balitbangda, 57 perguruan tinggi, 20 sektor industri dan BUMN yang terkait iptek.

Hadir pula ilmuwan mancanegara sebagai pembicara utama yakni President of National Graduate Institute for Policy Studies Jepang Takashi Shiraishi, Dr Atta ur Rahman dari University of Karachi Pakistan dan President of the Worlf Federation for Culture Collection Dr Philippe Desmeth.

Selain Kipnas, digelar pula pameran hasil riset dasar hingga terapan dalam Indonesia Science Expo. Aneka talkshow, temu bisnis juga memeriahkan Kipnas XI. [R-15/L-8]
Sumber : sp.beritasatu.com, 8 Oktober 2015

Sivitas Terkait : Iskandar Zulkarnain

Diakses : 1604