Jakarta Harus Berubah, Sebelum Terlambat

 
 
BOGOR, KOMPAS.com Pemilihan gubernur dan wakil gubernur oleh warga DKI Jakarta pada Rabu (11/7/2012) dapat membawa angin segar bagi Kota Jakarta dan penduduknya. Akan tetapi, di balik pesta demokrasi yang sedang dirayakan oleh warganya ini, Jakarta tengah mengalami masalah yang jauh lebih mendesak.

Jakarta bukan hanya tengah berhadapan dengan masalah sosial, melainkan juga harus berhadapan dengan kerusakan lingkungan yang semakin parah. Menurunnya permukaan tanah dan banjir merupakan sebagian kecil contoh masalah yang dihasilkan akibat pembangunan Jakarta yang tidak terintegrasi.

Sebagai bentuk perhatian, Center for Interdiciplinary and Advanced Research (ICIAR)-LIPI dan Institute for Environment and Human Security-United Nation University (UNU-EHS) mengadakan pertemuan dan diskusi di Gedung Konservasi, Kebun Raya Bogor, Kamis (12/7/2012). Mereka membahas pembangunan di kawasan yang menghubungkan daerah perkotaan dan pesisir ini.

Selain itu, pembicaraan di dalam dialog tersebut juga mengarah pada kelayakan Jakarta sebagai ibu kota negara di tengah tantangan yang harus dihadapi Jakarta.

Dalam pertemuan ini, Kepala LIPI Lukman Hakim mengungkapkan, "Kita mencari peluang dalam perubahan iklim yang terjadi. Melihat bencana bukan hanya sebagai bencana, melainkan juga melihat peluang yang ada. Kita lihat Jakarta dan Semarang mempunyai masalah yang serupa. Hari ini kita bahas kerawanan dan ketahanan wilayah pesisir. "

Menurut Direktur ICIAR-LIPI Jan Sopaheluwakan, Jakarta masih layak untuk menjadi ibu kota negara, selama memiliki keadilan antara lingkungan dan kehidupan sosial, pembenahan tata ruang, pemenuhan kebutuhan pangan, air, dan energi, serta yang terakhir adalah adanya konstruksi sosial dan ekonomi yang sehat.

Dalam acara ini, Jakarta dibandingan dengan beberapa kota besar lain di Indonesia dan di wilayah lain di dunia yang juga berada di daerah pesisir.

Sebelum terlambat, Jakarta harus segera berubah. Jika tidak, maka kondisi alam Jakarta akan terus memburuk, penduduk bertambah padat, dan bukan hanya tidak layak menjadi ibu kota negara ini, tetapi bahkan tidak layak untuk dihuni.

Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo
Sumber : Kompas.com (Jumat, 13 Juli 2012)

Sivitas Terkait : Jan Sopaheluwakan

Diakses : 1411