Jepang – ASEAN Tingkatkan Kerja sama Penelitian Keanekaragaman Hayati

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Jepang bersama dengan negara-negara ASEAN, salah satunya Indonesia, tengah berupaya meningkatkan kerja sama penelitian bidang keanekaragaman hayati. Salah satu wujud nyatanya adalah peningkatan kolaborasi transfer teknologi dan pertukaran pengetahuan para ahli bidang keanekaragaman hayati.
 
Peningkatan kolaborasi ini guna menguak lebih jauh lagi keunikan-keunikan keanekaragaman hayati yang ada di ASEAN, khususnya Indonesia. “ASEAN dan Indonesia merupakan kawasan dengan tingkat biodiversitas yang tinggi, maka kolaborasi ini didorong agar bisa mengeksplorasinya guna pemanfaatan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan,” ujar Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Akmadi Abbas dalam Second Japan-ASEAN Science, Technology and Innovation Platform (JASTIP) Symposium di Jakarta, Sabtu (11/6).
 
Menurutnya, LIPI pun dapat berperan penting dalam kolaborasi tersebut. Apalagi lembaga ini merupakan pemegang scientific authority bagi sumber daya hayati di Indonesia. “Dengan kolaborasi Jepang-ASEAN, maka Indonesia melalui LIPI dan lembaga terkait lainnya diharapkan mampu berkontribusi signifikan untuk pengembangan keanekaragaman hayati yang positif ke depan,” katanya.
 
Di sisi lain Minister Counsellor and Deputy Chief, Mission of Japan to ASEAN, Yukiko Okano mengungkapkan, kerja sama Jepang dengan ASEAN dan Indonesia tidak hanya sebatas penelitian keanekaragaman hayati semata. Ada bidang-bidang lain yang bisa dikerjasamakan di bawah JASTIP, seperti energi dan lingkungan serta pencegahan bencana. “Dengan lingkup kerja sama yang luas, kami berharap kerja sama ini dapat menginkubasi peneliti-peneliti baru yang handal melalui transfer teknologi,” tuturnya.
 
Yasuyuki Kono, JASTIP Project Leader dari Kyoto University menyambung kerja sama tersebut diharapkan mampu membina hubungan dan konsolidasi yang baik antara para peneliti/ahli dari berbagai lintas negara. “Dengan simposium kali ini, kami berharap kolaborasi yang terjalin bisa lebih erat sehingga mampu mendedikasikan diri dalam penelitian demi pembangunan berkelanjutan,” tutupnya.
 
Sebagai informasi, simposium ini berlangsung selama dua hari pada 10-11 Juni 2016. Para pembicara kegiatan itu, antara lain Enny Sudarmonowati (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI), Juichi Yamagiwa (Presiden Kyoto University), Nada Marsudi (Kemenristekdikti), Atty Roberto V. Olovia (Direktur Eksekutif ASEAN Center for Biodiversity), Tetsuzo Yasunari (Direktur Umum Research Center for Humanity and Nature), Christine Padoch (Direktur Center for International Foresrty Research), dan berbagai narasumber kompeten lainnya. (msa/ed: pwd)

Sumber : Biro Kerja sama, Hukum dan Humas

Diakses : 3001