Kajian Masih Terbatas, LIPI Dorong Peneliti Tingkatkan Penelitian Hadhramis

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Keturunan Hadhramis sudah banyak berperan sepanjang perjalanan sejarah Indonesia. Sebut saja Wali Songo, Imam Bonjol, Sultan Hamid II (Perancang Lambang Garuda), Husein Mutahar (Penyelamat Bendera Pusaka), dan AR Baswedan telah tercatat di sejarah perjuangan Indonesia. Selain itu, di era pembangunan nama seperti Ali Alatas, Alwi Shihab, dan Anies Baswedan juga memiliki peran di sektor ekonomi dan politik.
 
Kendati begitu, kajian penelitian terkait peran dan perkembangan keturunan Hadhramis di Indonesia masih terbatas. "Kajian terkait Hadhramis yang telah ditemukan rata-rata masih berbahasa asing, sehingga masih harus menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hal ini menunjukan masih terbatasnya kajian terkait Hadhramis yang dilakukan Indonesia, padahal peran mereka telah lama di Indonesia," ungkap Sri Sunarti Purwaningsih, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK LIPI) pada International Conference on the Dynamics of Hadhramis Indonesia pada Rabu (22/11) di Jakarta.
 
Untuk itu, kajian penelitian Hadhramis di Indonesia diharapkan bisa ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas. LIPI pun mendorong agar kajian penelitian itu juga dilakukan lebih intensif oleh para peneliti LIPI.
 
Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan hal yang senada. Lukman melihat bahwa kurangnya kajian terkait keturunan Hadhramis di Indonesia membuat informasi dan pemahaman yang baik tentang keturunan ini masih minim. "Saya sangat mengapresiasi LIPI telah melakukan pertemuan untuk mengaji peran keturunan Hadhramis di Indonesia. Hal ini penting agar kita bisa menjalin kerja sama di berbagai bidang dengan mereka (keturunan Hadhramis)," terangnya.
 
Lukman berharap bahwa konferensi terkait keturunan Hadhramis yang dilakukan LIPI dapat dilakukan secara berkesinambungan sehingga bisa merekomendasikan kebijakan di masa depan. “Utamanya agar kebijakan menjaga persatuan dan sekat bangsa dengan berbagai budaya di Indonesia bisa lebih baik lagi,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Najib Burhani, Peneliti P2KK LIPI menyoroti tentang keberadaan keturunan Hadhramis dengan kemajemukan bangsa Indonesia. Dia pun mengaitkan dengan persoalan identitas yang akhir-akhir ini menjadi polemik di Indonesia. "Indonesia sebagai negara multi etnis dan multi agama seharusnya bisa lebih terbuka untuk memahami lebih dalam etnis yang ada agar kita bisa menjaga kebhinekaan," terang Najib.
 
Najib menekankan bahwa pemahaman yang baik tentang etnis seperti etnis Hadhramis harus dilakukan agar masyarakat Indonesia mengerti peran keturunan ini untuk Indonesia. "Pemahaman yang baik bisa menciptakan kecintaan antar etnis. Selain itu, juga menjaga persatuan yang saat ini mudah sekali terjadi konflik karena ketidaktahuan peran-peran keturunan mereka untuk negara ini,” pungkasnya. (lyr/ed: pwd)

 
Sumber foto ilustrasi berita:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Hadhrami_immigrants_at_Surabaya_1920s.jpg
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Meeting_of_Indonesian_Arab_Party_in_Bandung,_1939.jpg


 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Sri Sunarti Purwaningsih M.A.