Keabsahan Papua Road Map Dipertanyakan

 
 

Papua Road Map (PRM) yang merupakan upaya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merumuskan pentingnya jalan damai penyelesaian konflik di Papua, dipertanyakan kembali keabsahannya. Pandangan tersebut dirasa masih sepihak karena belum mewakili aspirasi masyarakat Papua secara keseluruhan.

Bantahan dan berbagai komentar mengenai PRM diulas kembali dalam buku Integrasi Telah Selesai Komentar Kritis Atas Papua Road Map . Buku ini memberikan perspektif lain, dimana masih banyak sumber lain dari Papua yang menolak Road Map tersebut dan dianggap masih sepihak.

Editor buku, Agus E Santoso mengungkapkan, dalam PRM terdapat 4 poin rumusan yang disampaikan penulisnya, Muridan S Widodo. Di sana diuraikan, masalah mendasar yang harus segera diatasi masyarakat Papua diantaranya pelurusan sejarah integrasi Papua ke dalam wilayah NKRI, penyelesaian hukum dan HAM masa lalu, kesejahteraan rakyat Papua dan masalah marginalisasi rakyat Papua.

"Dalam beberapa poin, memang hal tersebut merupakan problem bersama yang harus diselesaikan. Namun, permasalahan integrasi kembali dipertanyakan, karena seolah itu adalah pandangan orang Papua secara keseluruhan. Padahal secara metodologi yang dilakukan LIPI itu tidak akurat karena narasumber yang diwawancara tidak menyeluruh bahkan tidak ada, " terang Agus disela bedah buku di UC UGM, Senin (21/12).

Disadarinya, road map tersebut memang menampung cara pandang. Akan tetapi seolah road map tersebut menampung pandangan orang Papua secara keseluruhan. "Itu tidak balance (seimbang. red), karena secara metodologi tidak disebutkan Papua mana yang setuju disintegrasi dan yang mempertanyakan integrasi. Itu tidak mengikuti kaidah penelitian yang benar seperti jumlah sampling dan sebagainya, " katanya.

Terkait hal tersebut, disinggung mengenai kematian komandan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kelly Kwalik, dianggapnya sebagain hal yang biasa dalam perang dan tidak akan memberikan gejolak yang berlebih. "Itu sudah resiko dalam perang dan masyarakat Papua melihatnya hanya sebagai sebuah sisi persaudaraan. Hanya saya menyayangkan kenapa ini terjadi pada masa menjelang Natal, " imbuhnya. (Ran)

Kedaulatan Rakyat, 21 Desember 2009

Sivitas Terkait : Muridan Satrio Widjojo

Diakses : 1888