Kejar Ketertinggalan Infrastruktur, Indonesia Harus Jalankan Cara "Rock and Roll"

 
 

Jakarta, Humas LIPI. Salah satu tantangan pembangunan infrastruktur yang saat ini dihadapi Indonesia adalah aspek konektivitas. “Bayangkan dari tahun ’70-an sampai 2014 jalan tol kita cuma 780 kilometer. Padahal, kita yang pertama membangun jalan tol. Kita yang membangun jalan tol di Filipina dan Malaysia, tapi kita ketinggalan dari mereka,” jelas Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia, Basuki Hadimulyono dalam orasi ilmiahnya LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture pada Kamis (23/8) di Jakarta. Menurut Basuki, untuk mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur tidak bisa dilakukan dengan pola kerja yang biasa. “Perlu cara-cara rock and roll, tidak bisa kita bekerja dengan cara biasa.”

Ia menjelaskan, untuk meminimalisir dampak negatif dari pembangunan infrastruktur terhadap lingkungan kita harus cermat memperhitungkan daya dukung lingkungan. “Intinya kita harus mampu mengoptimalkan pengembangan seluruh potensi wilayah yang tersedia dengan daya dukung lingkungannya. Jadi meskipun pembangunan infrastruktur dilakukan secara massif namun tidak merusak kondisi lingkungannya,” terangnya.

Kebun raya daerah
Basuki menjelaskan diperkirakan 68% penduduk Indonesia di tahun 2035 akan tinggal di kawasan perkotaan. “Untuk menciptakan kota-kota yang ramah lingkungan, Kementerian PUPR terus membangun ruang terbuka hijau, termasuk pembangunan kebun raya daerah bersama LIPI. Saat ini sudah ada 35 kebun raya daerah yang dikerjakan,” jelasnya.

Menurutnya Kementerian PUPR akan terus berkomitmen untuk melakukan pembangunan infrastruktur berbasis lingkungan. “Ada prinsip adopsi kondisi lingkungan budaya, daya dukung lingkungan, optimalisasi sumber daya, serta partisipasi masyarakat dan mendorong inovasi teknologi,” terangnya.

LIPI Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture adalah kuliah ilmiah ilmuwan, pakar, atau praktisi yang telah memberikan sumbangsih nyata dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Bersama pemberian LIPI Sarwono Award keduanya merupakan puncak dari peringatan ulang tahun ke-51 LIPI yang jatuh pada tanggal 23 Agustus. Penggunaan nama “Sarwono” adalah bentuk penghormatan LIPI kepada jasa dan pengabdian Sarwono Prawirohardjo sebagai Kepala LIPI pertama dalam membangun ilmu pengetahuan Indonesia. 

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko menilai Basuki Hadimulyono sebagai sosok yang mampu memberi inspirasi. “Kesederhanaan, kerja keras, pengalaman panjang dan sisi humanis Basuki Hadimulyono kami yakin memberi inspirasi bagi peneliti, masyarakat utk terus membangun Indonesia lewat ilmu pengetahuan,” pungkasnya. (lyr/ed: fza, dig) 

 


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.