Kelelawar Langka Pernah Ada di Gunung Sewu, Kekayaan Keanekaragaman Hayatinya Belum Banyak Disingkap

 
 

Jakarta, Kompas - Dalam eksplorasi kawasan karst Jawa di Gunung Sewu di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, 3-16 Agustus 2006 lalu, ditemukan jenis kelelawar gua yang selama ini jarang ditemukan. Temuan lain, jenis ikan wader gua (Puntius microps) yang secara fisik mirip dengan jenis yang dipublikasikan tahun 1916 silam.

Kelelawar gua yang dimaksud (Hipositeros creaghi) sebelumnya ditemukan di sebuah gua di Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur. "Untuk jenis ikan, sekarang sedang diteliti untuk dipastikan jenisnya. Secara fisik sangat mirip Puntius," kata Ketua Tim eksplorasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi ketika dihubungi, Jumat (25/8).

Ikan wader gua tersebut diidentifikasikan bermata kecil dan bertubuh transparan sebagai wujud adaptasi situasi gua yang khas. Badan Konservasi PBB mengategorikan Puntius microps sebagai hewan terancam punah tahun 1990.

Eksplorasi serupa digelar Juni 2006 lalu di kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan. Sayangnya, eksplorasi tersebut kurang maksimal akibat guyuran hujan deras selama masa eksplorasi.

"Karst Maros sangat istimewa dan memiliki keanekaragaman-hayati terkaya di Asiatropika," kata ahli peneliti utama LIPI Yayuk Suhardjono.

Tim LIPI pernah menemukan jangkrik gua dengan panjang tubuh tiga sentimeter (cm) dan antena 35 cm.

Tahun 2003, di lokasi yang diusulkan sebagai warisan dunia (world heritage) itu, mereka menemukan kepiting bertubuh seperti laba-laba, dan ikan gua buta berbadan transparan.

Belum banyak disingkap

Kawasan karst merupakan bentang alam unik dengan batuan mudah larut, khususnya batu gamping (kapur) akibat proses karstifikasi.

Kawasan ini umumnya gersang dengan banyak gua dan sungai bawah tanah.

Kawasan karst Indonesia terkaya berada di Papua diikuti Jawa. Sayangnya, seperti kawasan karst lain di Indonesia, kekayaan keanekaragaman hayati endemis di sana belum banyak disingkap. "Penelitian biologi gua mulai intensif tahun 2000-an," kata Cahyo.

Sebelumnya, peneliti-peneliti asing telah menjelajah gua-gua karst di Asia. Salah satu hasilnya, tahun 2004 deskripsi ikan gua (Grammonus thielei) dari Pulau Tioman, Sulawesi Utara, dilakukan peneliti asing.

Demikian pula ikan gua (Bostrychus sp.) yang ditemukan di Maros, yang dideskripsikan Murice Kottelat dari Swiss dan Dough Hoese dari Western Australian Museum.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Desember 2004 lalu mencanangkan kawasan eco-karst seluas 130.000 hektar. Bentangannya mulai dari Gombong (Jateng), Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jateng), hingga Pacitan (Jawa Timur).

Kawasan karst direkomendasikan para ahli lingkungan agar terus dijaga, selain keanekaragaman hayatinya, di antaranya juga tandon air besar (akuifer) yang menyediakan air bersih dalam jangka panjang. (GSA)

Sumber: KOMPAS, Sabtu, 26 Agustus 2006
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/26/humaniora/2906046.htm



Diakses : 441