Kepunahan Spesies Indikator Kegagalan dalam Mengelola Lingkungan Hidup

 
 

(Bogor-Humas P2 Biologi-LIPI) Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), karnivora terbesar yang hidup di Pulau Jawa dan dinyatakan punah sekitar tahun 1980-an. Berdasarkan koleksi yang ada, hewan ini pernah ditemukan di Jampang Kulon, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Pangrango (Jawa Barat), Yogyakarta, Probolinggo, Blitar, Banyuwangi, Tulungagung dan Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur). Kepunahan Harimau Jawa menjadi pelajaran yang berharga untuk menyelamatkan spesies lain yang kondisinya terancam punah di Indonesia. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius sebelum spesies lain menyusul mengalami kepunahan, dan pertukaran informasi terbaru mengenai Harimau Jawa dan rahasia dibalik kepunahannya akan sangat bermanfaat untuk pengetahuan dan bagi kehidupan manusia serta menjadi sebuah ajang untuk berdiskusi.

Dalam rangka memperingati World Wildlife Day pertama dan 120 tahun Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Pusat Penelitian Biologi-LIPI menyelenggarakan kegiatan MZB Talk (diskusi panel) dengan tema Harimau Jawa: Mitos dan Faktanya pada tanggal 20 Maret 2014 yang bertempat di Museum Zoologi Bogor (museum pameran) di Kebun Raya Bogor dan dihadiri oleh sekitar 55 orang undangan dari beberapa institusi seperti ; Direktur Peduli Karnivor Jawa (PKJ), Kepala PKT-KRB, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Flora Fauna Indonesia (FFI), Harimau Kita, Yayasan GIBBON Indonesia, BBKSDA Jawa Barat, IPB, UI, UIN, ASTI, Japan Leopard Focus Group, BKPI LIPI, KOMPAS dan Peneliti MZB Pusat Penelitian Biologi LIPI. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan biodiversitas, khususnya fauna Indonesia kepada masyarakat dan mendekatkan para peneliti di Museum Zoologicum Bogoriense serta sebagai wujud peran serta Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam menyebarluaskan informasi tentang pengetahuan fauna Indonesia.

Dr. Didik Widjamoko, M.Sc, selaku Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya Bogor yang mewakili Deputi IPH LIPI, dalam sambutannya mengatakan makna kegiatan ini sangat bagus dan menarik seperti cerita mitos dan fakta-fakta yang akan menambah khasanah dan merupakan suatu topik besar yang perlu mendapat perhatian dalam rangka melestarikan spesies-spesies yang perlu dilindungi. Makna kegiatan ini menjadi suatu momen sebagai ajang berdiskusi yang sangat bermanfaat bagi pencinta dan pemerhati lingkungan dalam memperingati 120 tahun Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang kontribusinya sangat besar dari segi scientist untuk bersama-sama melestarikan biodiversitas Indonesia dan ekosistemnya yang menjadi simpul utama sebagai bahan pembelajaran, tegasnya.

Dalam sambutan pembukaannya Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah, M.Phil selaku Kepala Bidang Zoologi yang mewakili Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengungkapkan bahwa diskusi yang dilakukan sangat penting sesuai dengan amanah dari DEPUTI IPH dan Kepala Pusat penelitian Biologi LIPI, dimana kegiatan MZB Talk ini harus terus dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita dalam kaitannya dengan World Wildlife Day yang ditetapkan oleh UNEP PBB tanggal 3 Maret.

LIPI sebagai scientific authority dalam bidang keanekaragaman hayati sangat mendukung sekali data-data fauna dan kegiatan-kegiatannya yang harus terus dilakukan dan dikomunikasikan, serta bekerjasama dengan berbagai institusi dan LSM untuk memperhatikan fauna Indonesia. MZB Talk ini akan dilakukan setiap bulan sebagai sarana untuk menyampaikan informasi-informasi fauna terkini, upaya-upaya serta isu-isu terbaru dalam menangani masalah fauna secara utuh, tegasnya.

Diskusi dan pemaparan bukti-bukti terbaru dalam studi mengenai Harimau Jawa dilakukan dalam rangka menjawab mitos dan/atau fakta mengenai keberadaan Harimau Jawa di Pulau Jawa. Beberapa narasumber yang dihadirkan dalam diskusi yang dipandu oleh Hari Nugroho (Bidang Zoologi-Pusat Penelitian Biologi-LIPI) antara lain:

Dr. Gono Semiadi, Peneliti Mamalia (Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi-LIPI). Dalam paparannya Harimau Jawa : Dimanakah Dirimu, menyatakan bahwa diseluruh Museum di dunia hanya terdapat 35 spesimen, sedangkan di Indonesia hanya ada dua spesimen. Konsep punah secara ilmiah telah bergeser dari suatu katagorik generik, yan berlaku umum menjadi lebih menekankan pada keyakinan ilmiah setelah memperhitungkan banyak pertimbangan. Dahulu suatu jenis satwa dikatakan punah apabila dalam kurun waktu 50 tahun setelah perjumpaan terakhir tidak pernah dijumpai kembali di alam.

Masa kini pernyataan punah ditetapkan manakala dunia ilmiah secara yakin, dengan telah mempertimbangkan berbagai pendekatan keilmuan dan teknik, berpendapat bahwa jenis tersebut memang sudah tidak mungkin lagi hidup di alam bebas. Harimau, pada intinya akan hidup dengan baik dan alami apabila cukup tutupan hutannya, tersedia air dan makanan. Untuk Harimau Jawa, habitat hidupnya dapat mencapai pada wilayah yang cukup tinggi curah hujannya. Kepunahan dari harimau Indonesia dimulai dari punahnya harimau bali dan dilanjutkan dengan harimau Jawa. Masa kini, ancaman punah ini mulai mengintip pada Harimau Sumatera dan berharap hal tersebut tidak akan terjadi.

Didik Raharyono (Direktur Peduli Karnivor Jawa/PKJ), Peneliti Harimau Jawa dan penulis buku Berkawan Harimau bersama Alam menyampaikan presentasinya dengan judul Fakta Harimau Jawa yang memaparkan bahwa terjadi silang pendapat antara masyarakat ilmiah dan masyarakat sekitar hutan. Para ahli menyatakan bahwa Harimau Jawa ini telah punah yang didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang tidak pernah menemukan sosok Harimau Jawa ini di alam, akan tetapi berdasarkan penuturan masyarakat lokal di sekitar Taman Nasional Meru Betiri menyatakan bahwa masih terjadi perjumpaan dengan harimau loreng di kawasan tersebut. Fakta-fakta terbaru tentang keberadaanya dengan materi temuan seperti foto, laporan pembunuhan, sisa pembunuhan, jejak, cakaran dan kotoran menunjukkan informasi awal keberadaan spesies ini.

Hariyo T. Wibisono, seorang Tiger Expert (Sumatran Tiger Conservation Forum), memaparkan dalam presentasinya yang berjudul Indonesian Tigers at a Glance tentang meninjau keberadaan harimau di alam secara umum namun lebih difokuskan pada Harimau Sumatera, berdasarkan data IUCN RED LIST, bahwa Harimau Sumatera sudah mulai berada di taraf endangered. Pada saat ini keberadaannya masih berada di kantong-kantong habitat yang tersebar di sekitar 27 petak hutan.

Hasil yang dapat disimpulkan dari diskusi selama acara MZB Talk berlangsung, antara lain:
1. Kedepannya, teman-teman praktisi yang dilapangan dan scientist dengan keilmuan yang mendukung perlu kerjasama untuk menindaklanjuti dan membuktikan keberadaan Harimau Jawa di alam.

2. LIPI sebagai scientific authority yang juga berperan sebagai central for national depository diharapkan dapat memfasilitasi dan memberi kemudahan pada para praktisi lapangan dalam mengolah data dan sampel material dari lapangan terkait Harimau Jawa.

3. Perlunya scientific methode yang lebih sistematik dalam mengevaluasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

4. Punah secara fisik dan punah secara memori bisa menjadi kehilangan besar bagi kita karena Harimau merupakan lambang kebanggaan yang banyak dipakai sebagai simbol.

MZB Talk sebagai ajang untuk berdiskusi dan bertukar informasi menjadi sebuah acara yang positif bagi penyebarluasan informasi biodiversitas Indonesia serta membangkitkan penghargaan terhadap keberadaan fauna untuk kepentingan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem. MZB talk akan diadakan setiap bulan secara rutin dengan topik yang berbeda, bertempat di Museum Zoologi Bogor (Museum Pameran) di Kebun Raya Bogor. (shyef)


Sumber : P2 Biologi

Sivitas Terkait : Rosichon Ubaidillah
Diakses : 2320