Kongres Ilmu Nasional Hasilkan Sejumlah Dokumen

 
 
Bogor, Pelita

Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional ke XI yang diselenggarakan LIPI bersama Kementerian Riset Teknologi dan Dikti Oktober 2015 mendatang akan menghasilkan sejumlah dokumen salah satunya mendorong kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan.

"Dokumen yang membuat kebijakan ilmu pengetahuan dan konsep Indonesia yang sejahtera berbasis ilmu pengetahuan, kemudian disampaikan pada pemerintah dalam bentuk Policy K1PNAS XI, " kata Ketua Tim Ilmiah KIPNAS ke Xl Prof Lukman Hakim kepada wartawan dalam konferensi pers praKIPNAS ke-XI di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Lukman mengatakan kondisi saat ini Indonesia dalam situasi krusial yang dinilai banyak pihak sebagai tempat investasi dan juga tempat pemasaran. Bahkan diprediksi sebagai negara nomor lima di dunia dengan perekonomian yang kuat.

Namun, lanjut dia, fakta saat ini sebagian besar orang Indonesia hanya tamatan SMP. Sementara itu, pemerintah sudah mengeluarkan program wajib belajar 12 tahun, dengan biaya yang cukup besar. Yang diharapkan warga lulus SMA dan 30 persen lulusan perguruan tinggi.

"Kualitas Indonesia buruk, sejajar dengan Nepal, padahal ekonomi kita nomor 12 di dunia, " katanya.

Menurut Lukman, jawaban atas persoalan tersebut adalah ilmu dan teknologi. Sehingga kedepan, kita tidak perlu lagi mengekspor tenaga kerja pembantu rumah tangga. Tetapi tenaga kerja yang memiliki kualifikasi dapat bekerja di perusahaan-perusahaan besar.la mengatakan walaupun jumlah tenaga kerja yang bekerja di luar negeri cukup banyak dan menyumbang devisa terbesar, tetapi tetap saja negara defisit. Begitu juga dengan ekspor nikel, padahal negara bukan penghasil nikel. Sehingga defisit nilai tambah.

"Jadi perlu satu regulasi yang melindungi kita dalam menguatkan peran ilmu pengetahuan, " kata Lukman.

Sekretaris I Panitia Pelaksana KIPNAS ke Xl Nur Tri Aries Suestiningtyas menambahkan, regulasi yang diusulkan terkait transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan antara lembaga ilmu pengetahuan indonesia (LIPI) dan perguruan tinggi dengan pemerintah.

"Strategi peningkatan hasil-hasil penelitian baru untuk masuk dalam jurnal nasional, serta regulasi inkubator ilmu pengetahuan dan teknologi, " katanya.

Selain itu, penyelenggaraan KIPNAS ke Xl juga menjadi momentum yang tepat dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016 dan bonus demografi.

Menurut Lukman, bonus demografi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Perlu persiapan manajemen sumber daya manusia, agar bonus tersebut membawa manfaat, karena apabila tidak kelola akan membawa kehancuran bagi Indonesia.(don)
Sumber : Pelita, edisi 21 September 2015. Hal: 11

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas

Diakses : 1261