Konsep Ekohidrologi Pesisir Jadi Solusi Ancaman Wilayah Pesisir

 
 
Yogyakarta, Humas LIPI. Sebagian besar penduduk dunia tinggal di wilayah pesisir, termasuk pula di Indonesia. Dari waktu ke waktu, ancaman terhadap wilayah pesisir memang semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang tinggal di sekitar area tersebut. Untuk mengurangi ancaman wilayah pesisir ini, penerapan konsep ekohidrologi pesisir bisa menjadi solusi.
 
Inilah yang menjadi perhatian utama dalam kegiatan International Training Course on Coastal Ecohydrology (ITCCE) di Yogyakarta pada 6-10 Agustus 2018. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan, memahami pengetahuan teknis, dan memungkinkan penerapan praktis pendekatan ekohidrologi pesisir di Indonesia dan Kawasan Asia-Pasifik.
 
Pelatihan itu diselenggarakan secara bersama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoensia (LIPI) melalui Asia Pacific Centre for Ecohydrology atau Pusat Asia Pasifik untuk Ekohidrologi (APCE), UNESCO, International Centre for Coastal Ecohydrology (ICCE) Portugal, dan Universitas Gajah Mada (UGM).


 
Dalam sambutan pembukaan pelatihan ITCCE ini, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin menyoroti ancaman pesisir akibat desakan penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. “Tingkat pertumbuhan penduduk dan pariwisata di pesisir mempercepat tekanan pada lingkungan. Aktivitas manusia yang terkait dengan variabilitas iklim membuat area ini lebih rentan terhadap perubahan. Sangat penting untuk mengelola kawasan pesisir yang berkelanjutan untuk menjaga ekosistem, lingkungan dan masyarakat yang sehat,” jelasnya pada Senin (6/8/2018).
 
Menurutnya, salah satu solusi untuk mengurangi ancaman terhadap pesisir dengan pendekatan ekohidrologi. Pendekatan ini sebagai pemecahan masalah untuk memperbaiki dan memulihkan fungsi dan layanan ekosistem sungai dan ekosistem pesisir. “Intinya adalah mengintegrasikan aktivitas manusia dengan siklus hidrologi dengan baik,” ungkapnya.
 
Direktur Eksekutif APCE sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Ignasius Dwi Atmana Sutapa mengatakan, pendekatan ekohidrologi bertujuan untuk memahami dan menjelaskan hubungan dinamis antara sistem hidrologi, sosial dan ekologi. Pendekatan itu juga mempertimbangkan bagaimana bertindak atas satu sama lain dan untuk menemukan cara agar menyeimbangkan kebutuhan manusia dan lingkungan mengenai sumber daya air.


 
Hubungannya dengan APCE, Ignas menjelaskan, lembaga yang dipimpinnya itu merupakan Pusat Kategori II di bawah naungan UNESCO yang fokus terhadap masalah lingkungan/ekologis untuk penyediaan air yang berkelanjutan. Pendekatan ekohidrologi sejalan dengan fokus dari APCE. “Selain itu, pendekatan tersebut juga sepaham dengan misi utama UNESCO meningkatkan sains, pendidikan, dan kebudayaan,” tutupnya.
 
Sebagai informasi, kegiatan ITCCE sendiri diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai negara, antara lain Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Timor Leste, dan Indonesia. Khusus peserta dari Indonesia, mereka berasal dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam pelatihan tersebut, juga dilakukan peluncuran buku berjudul APCE Best Learning Water Resources Management. (pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa