Kontribusi Perempuan untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

 
 

Bogor, Humas LIPI. Jasa R.A Kartini membuat perempuan memiliki kesempatan untuk dapat belajar dan berperan dalam perkembangan zaman. Perjuangan ini dilanjutkan oleh para Kartini masa kini dengan cara turut memajukan negeri sesuai dengan bidangnya masing-masing. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus mendorong perempuan untuk selalu produktif dan berkembang dalam bidangnya masing-masing.

"Begitu banyak peneliti perempuan yang memililiki semangat seperti Raden Ajeng Kartini. Sudah 140 tahun sejak Kartini lahir kita harus bisa melanjutkan cita-citanya melalui bidang riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati dalam Diskusi Publik “Kartini Indonesia dan Ilmu Pengetahuan” yang diadakan di Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain), Bogor, pada Kamis (18/4).

Menurut Enny, minat kaum perempuan untuk menjadi peneliti terus meningkat dari tahun ke tahun. “Tahun lalu jumlah peneliti perempuan LIPI sekitat 40 persen dari total 1.500 peneliti LIPI. Mungkin sekarang jumlahnya sudah mendekati 50 persen, bahkan ada beberapa bidang penelitian yang banyak peneliti perempuannya," ungkap Enny.

Diskusi Publik “Kartini Indonesia dan Ilmu Pengetahuan” menghadirkan empat perempuan sivitas LIPI yang konsisten berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi lewat bidang yang mereka tekuni. Myrtha Karina Sancoyorini, profesor piset yang merupakan peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI secara tekun mengembangkan limbah biomassa seperti limbah air kelapa untuk bahan baku bioplastik. “Bioplastik adalah plastik yang dibuat dari bahan berbasis tanaman atau bahan lain yang dapat diperbarui. Bioplastik mampu hancur secara alami menjadi karbon dioksida atau air,” jelas Myrtha.

Narasumber selanjutnya, Djunijanti Peggie yang merupakan peneliti sistematika kupu-kupu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menjelaskan kupu-kupu adalah salah satu hewan kesukaan dari R.A Kartini. “Ini terbukti dari batik yang dibuat oleh beliau dengan motif bunga dan kupu-kupu,” jelas Peggie yang merupakan doktor kupu-kupu pertama di Indonesia lulusan perguruan tinggi luar negeri, tepatnya Cornell University, Amerika Serikat. Menurut Peggie, kupu-kupu berperan penting menciptyakan keseimbangan alam lewat perannya sebagai penyerbuk.

Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Sri Yudawati Cahyarini mengingatkan pentingnya mempelajari arsip-arsip iklim seperti karang, endapan laut dan danau, juga lingkaran tahun pada pohon. "Perlu arsip-arsip data iklim untuk semakin memahami fenomena perubaan iklim serta upaya mitigasi utnuk mengurangi dampak buruk akibat perubahan iklim global,” jelasnya.

Sementara Anne Kusumawaty yang merupakan illustrator botani Herbarium Bogoriense Pusat Penelitian Biologi LIPI mengungkapkan peran penting ilustrator tentang spesifikasi suatu jenis tumbuhan tertentu. “Ilustrasi memberikan deskripsi tumbuhan yang akurat, rinci dan ilmiah jenis-jensi tumbuhan bahkan untuk yang awam sekalipun,” jelas Anne yang memulai karir sebagai illustrator botani sejak tahun 2008. Baru-baru ini karya ini dipamerkan dalam ajang Margaret Flockton Award Exhibition 2019 yang diselenggarakan oleh The Royal Botanic Garden Sydney, Australia

Plt. Kepala Biro Kerja Sama Hukum dan Humas LIPI, Mila Kencana menjelaskan kegiatan diskusi publik ini adalah upaya untuk menjadikan peringatan Hari Kartini tidak sebatas momentum seremonial saja. "Kegiatan ini merupakan upaya untuk memberikan kesadaran pentingnya peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, khusunya ilmu pengetahuan dan teknologi," pungkasnya.


Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati