Krisis Petani, LIPI: Perlu Kurikulum Muatan tentang Pertanian

 
 
Jakarta, GATRAnews - Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI) tengah meneliti tentang masalah regenerasi pertanian di Indonesia. Dalam penelitian ini, tim LIPI menemukan kenyataan bahwa kondisi pertanian Indonesia sudah masuk dalam kategori krisis regenerasi. Dalam data yang dipaparkan, lahan pertanian di Indonesia pun mengalami penyusutan yang signifikan.

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, YB. Widodo mengatakan, pada tahun 1990 an, Indonesia memiliki lahan pertanian seluas 17 juta hektar. Saat ini alih fungsi lahan membuat jumlah ini merosot tajam lebih dari 50 persen. Lahan pertanian di Indonesia hanya tersisa 9 juta hektar.

"Ini menunjukkan produktivitas pangan Indonesia terbilang rendah. Terlebih, Indonesia juga memiliki kebijakan mengimpor hasil pertanian dari luar negeri. Lahan produktif yang berkurang ini diperuntukkan bagi sektor lain yang bersifat non farming (non pertanian), " urai Widodo, kepada GATRAnews, Jumat (2/10), saat ditemui di areal Widya Graha LIPI, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Penelitian yang dilakukan LIPI juga menemukan, masalah serius yang menyebabkan ketidakberminatan generasi muda dalam mengelola pertanian dipengaruhi pola pendidikan, dan program pemerintah yang tidak tepat sasaran.

"Pemerintah perlu meninjau kembali kurikulum pendidikan. Sudah saatnya, siswa sekolah mendapatkan pendidikan tentang pertanian. Dalam kurikulum ini juga diperkenalkan model budidaya, penerapan teknologi, dan pemanfaatan lingkungan sekitar. Bahkan, diajarkan pula tentang strategi pemasarannya, sehingga pemuda tak perlu jauh-jauh lagi mencari pendapatan, " terangnya.

Pun begitu, penelitian LIPI ini baru akan berakhir pada 2019 mendatang. Dalam kurun waktu itu, tim peneliti juga akan meninjau daerah lain di luar pulau Jawa.

Untuk sementara, kata Widodo, pihaknya telah menemukan gagasan strategis untuk memberdayakan petani. "Di sejumlah wilayah yang kami teliti, ada model kerjasama yang kompleks dalam pertanian. Ada kelompok tani, penyuluh, hingga koperasi hasil tani. Model ini perlu dikembangkan lebih baik, kalau perlu dana desa yang dianggarkan pemerintah diperuntukkan untuk pengembangan produktivitas ketimbang untuk pembangunan infrastruktur. Bahkan, banyak desa yang bingung untuk memanfaatkan dana desa itu, " seloroh Widodo.

Peneliti lainnya, Gutomo Bayu Aji mengungkapkan, penelitian ini juga bertujuan untuk mengajak anak muda yang mengadu nasib di kora besar untuk kembali ke kampungnya.

Menurutnya, masalah di kota besar lebih kompleks dibandingkan di desa. Lebih baik, kata dia, anak muda memanfaatkan potensi yang ada di daerahnya. "Di kota, mereka tidak punya lahan, lapangan pekerjaan terbatas. Di desa, lahan masih sangat luas. Jangan sampai lahan yang tersisa dimanfaatkan untuk industri lain. Kami ingin mengarahkan anak muda kembali ke desa, " tandasnya.

Reporter: RAB

Editor: Nur Hidayat
Sumber : Gatra.com, 3 Oktober 2015

Sivitas Terkait : Yohanes Bosco Widodo

Diakses : 486