Kualitas SDM dan Dana Jadi Kunci

 
 
Anggaran untuk kegiatan iptek di Indonesia saat ini hanya sekitar 0,08 persen dari PDB. Idealnya 2 persen dari PDB.

JAKARTA - Pemerintah harus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), terutama dari sisi anggaran. Pengembang-gannya harus dipastikan berorientasi pada upaya menyejahterakan masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani mengatakan, tidak dipungkiri keberhasilan peningkatan kualitas penelitian dan pengembangan iptek sangat tergantung pada faktor kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pendanaan. Diantara faktor SDM dan pendanaan, seringkali menjadi perdebatan mana yang lebih dahulu dipersyaratkan.

"Apakah dengan semakin kuat kualitas SDM yang ada, maka akan semakin besar dukungan dana yang diberikan. Atau semakin banyak dana yang diberikan, maka akan menghasilkan SDM yang semakin berkualitas, ujar Puan, saat pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) ke XI, di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPI), Jakarta, Kamis (8/9).

Puan menyebutkan apabila dilihat dari kebutuhan anggaran untuk kegiatan iptek, saat ini, persentase anggaran untuk kegiatan iptek di Indonesia hanya berkisar 0,08 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal rasio anggaran iptek yang memadai menurut United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO), adalah sebesar 2 persen dari PDB.

Dengan kata lain, lanjutnya, angka ideal anggaran untuk pengembangan Iptek minimal adalah 200 triliun rupiah. Namun yang saat ini tersedia hanya sekitar 10 triliun saja, masih sangat jauh dari standar yang ditetapkan UNESCO. "Tentu merupakan kesenjangan yangsangat besar antara kondisi ideal dan apa yang terjadi saat ini, " jelasnya.

Kondisi itulah yang membuat pemerintah mengoptimalkan ketersediaan anggaran riset dan teknologi dengan menggabungkan urusan riset dan teknologi dengan urusan pendidikan tinggi. Penggabungan itu adalah untuk memacu perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi.

Latar belakang yang mendorong asimilasi kedua sektor tersebut adalah agar karya-karya yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti menjadi arsip saja. Namun diharapkan dapat menjadi solusi konkrit untuk menjawab permasalahan masyarakat melalui jalur implementasi. "Selain itu, alokasi anggaran riset akan bisa ditopang oleh anggaran pendidikan tinggi dan kedua sektordapat berjalan dengan sinergi, papar Puan.

Menko PMK juga meminta perlu membangun koneksitas yang semakin kokoh antara dunia riset dengan dunia usaha dan industri. Diperlukan prioritas dalam mengelola dan membangun koneksitas antara dunia riset dan industri.

Kementerian Ristek dan Dikti, kata Puan, harus dapat mengambil peran dalam membangun koneksitas tersebut dengan memberikan berbagai skema kerjasama antara ilmuwan dan industri yang dapat memberikan nilai tambah kepada masing-masing pihak.

Upaya lainnya dalam pemberdayaan riset dan hasil riset nasional. bagi pembangunan ekonomi masyarakat adalah dengan membangun Science and Techno Park (STP) di daerah. Dalam lima tahun ke de-pan, pemerintah menargetkan dapat membangun sebanyak 100 STP di berbagai daerah.

Pacu iptek

Sementara itu. Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain mengatakan, penyelenggaraan KIPNAS ke-XI ini sendiri digagas menjadi wadah bagi para ilmuwan untuk terus memacu perkembangan ilmu pengetahuan di tanah air. Selain itu, diharapkan mendorong kontribusi ilmu pengetahuan terhadap pemecahan masalah bangsa.

Ia menjelaskan, KIPNAS merupakan forum pertemuan para ilmuwan Indonesia untuk mendiskusikan khasanah kemajuan ilmu pengetahuan di tanah air dan peran sertanya dalam membangun peradaban bangsa.

"Kongres kali ini menjadi wadah ilmuwan lintas bidang yakni ilmu pengetahuan alamdan maritim, ilmu pengetahuan teknis, ilmu pengetahuan sosial dan manusia serta ilmu kesehatan dat obat untuk bertemu, " tutup Iskandar.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir mengatakan Kipnas mengambil topik yang signifikan untuk mencapai Indonesia sejahtera.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, lanjutnya, menetapkan tujuh fokus pengembangan iptek yakni obat, pangan dan agrikultur, tekonologi informasi dan komunikasi, transportasi, advance material, teknologi pertahanan, energi baru terbarukan, dan maritim.

Untuk bisa mewujudkan tujuh fokus iptek tersebut perlu didorong iptek yang dikembangkan dan diwujudkan dalam riset dan inovasi. cit/E-3


Sumber : Koran Jakarta, edisi 9 Oktober 2015. Hal: 4

Sivitas Terkait : Iskandar Zulkarnain

Diakses : 1392