LIPI: Ada Krisis Regenerasi Petani di 3 Daerah di Jateng

 
 
Jakarta, CNN Indonesia -- Kurangnya minat pemuda terhadap bidang pertanian dianggap momok menakutkan oleh sebagian kalangan. Gencarnya modernisasi dan kurangnya variasi dalam bidang pertanian dituding menjadi penyebabnya.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), YB Widodo, mengatakan dalam penelitiannya di tiga wilayah eks Kerasidenan Surakarta yakni Sragen, Klaten dan Sukoharjo diketahui modernisasi menyebabkan pemuda desa lebih memilih migrasi ke kota.

"Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian sementara, modernisasi yang dijalankan melalui keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non-pertanian telah membentuk pemuda pedesaan sebagai sumber daya manusia yang modern, " kata Widodo, di Gedung LIPI, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Jumat (1/10).

Modernisasi di pedesaan dituding menjadi pendorong perubahan sosial terutama mengenai paradigma petani sehingga pemuda sebagai generasi penerus tidak serta merta mewarisi keterampilan pertanian dari orang tua atau komunitas masyakatnya.

"Pemuda pedesaan yang modern ini yang membuat fenomena migrasi dari desa ke kota. Pada akhirnya pertanian di pedesaan semakin ditinggalkan, " katanya.

Modernisasi juga menyebabkan terjadinya industrialisasi di desa. Widodo memaparkan lahan pertanian saat swasembada pangan digalakkan di era 90-an terdapat sekitar 17 juta hektar. Namun kondisi tersebut terus menurun hingga saat ini.

"Lahan pertanian itu dulu saat swasembada pangan 17 juta hektar sekarang jadi 9 juta hektar, "ujar Widodo.

Untuk mengatasi hal tersebut, Widodo menjelaskan pendidikan pertanian di usia dini sangat penting untuk menumbuhkan minat pemuda-pemudi di Indonesia. Dia mencontohkan Jepang yang berhasil menerapkan hal tersebut.

"Di Jepang itu pendidikan usia dini berjalan, makannya di sana pemudanya minat terhadap pertanian, "ujarnya.

Sementara itu, Gutomo Bayu Aji, peneliti LIPI lainnya mengatakan kurangnya variasi teknik budidaya pertanian menyebabkan kurangnya minat pemuda dalam bidang agraria.

Gutomo berharap pemerintah bekerja sama dengan swasta untuk menciptakan variasi pertanian sehingga pemuda desa menjadi kreatif dan terdorong untuk terus memajukan dunia pertanian.

Menurutnya, jika hal tersebut berjalan baik, maka krisis regenasi petani di Indonesia bisa ditanggulangi.

"Teknologi serta variasi teknik budidaya pertanian perlu dibudayakan di kalangan pemuda pedesaan terutama pada situasi media lahan pertanian yang terbatas, " ujar Gutomo. (utd)
Sumber : CNN Indonesia, 3 Oktober 2015

Sivitas Terkait : Yohanes Bosco Widodo

Diakses : 304