LIPI Bedah Kontribusi Agama Yang Termediatisasikan Di Ruang Publik

 
 
Jakarta, Humas LIPI. “Mediatisasi agama menurut Stig Hjavard dibagi dalam tiga kategori , pertama, media menjadi sumber informasi utama mengenai isu-isu keagamaan dan menjadi platform untuk mengekspresikan dan kemudian melakukan proses sirkulasi keyakinan-keyakinan individual. Kedua, informasi sekaligus ekspresi pengalaman keagamaan dibentuk sesuai kehendak genre keinginan-keinginan media popular, jelas Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Sri Sunarti Purwaningsih pada Senin (26/11) di Jakarta.
 
Ia menambahkan , media juga mengambil alih fungsi-fungsi social dan kultural yang sebelumnya terinstitusionalisasikan melalui agama-agama. “Media lalu menyediakan ruang bimbingan spiritual, orientasi moral, dan perasaan kepemilikan dan kebersamaan komunitas,” jelasnya.
 
Menurutnya, mediatisasi agama memungkinkan tumbuhnya pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa diakses untuk menciptakan demokratisasi oleh publik Indonesia di tengah hegemonisasi ormas-ormas keagamaan. “Kemunculan otoritas-otoritas keagamaan melalui mediatisasi ini menciptakan distrupsi yakni kemunculan perubahan-perubahan yang mengubah tatanan lama dengan pembaruan diberbagai bidang,”ujar Sri Sunarti.
 
Sementara itu Ismail Fahmi, pembicara dari Drone Emprit menggaris bawahi bahwa media sosial merupakan media yang paling berperan dalam penyebaran paham keagamaan, menganggap twitter menjadi ajang pro-kontra yang melibatkan kepentingan politik dan penyebaran agama. “Instagram banyak digunakan oleh gerakan hijrah dalam menyampaikan dakwah, tetapi ada juga yang menyebarkan hate speech dalam penggunaanya. Masyarakat harus lebih cerdas dalam menggunakan media sosial dan mengakses inforrmasi di media tersebut,”pungkasnya. (rdn/ed:lyr)

Sumber : Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Sri Sunarti Purwaningsih M.A.
Diakses : 136