LIPI Berhasil Bangun 21 Kebun Raya Daerah di Indonesia

 
 
(Bali, 4 April 2013 Humas LIPI). Kontribusi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terhadap pembangunan kebun raya daerah telah menunjukkan hasil yang baik. Hingga saat ini, LIPI melalui Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor telah berhasil melakukan pembinaan dalam pembangunan 21 kebun raya daerah di 17 provinsi di Indonesia.

Kepala LIPI, Prof. Dr. Lukman Hakim mengatakan bahwa kebun raya kini bukan lagi hanya sekedar atribut suatu daerah. Pembangunan kebun raya daerah yang masuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-2 (2010-2014), telah menjadikan posisi kebun raya dalam upaya konservasi tumbuhan Indonesia menjadi semakin strategis. Perannya tidak hanya sebagai pusat konservasi tumbuhan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Solusi bagi kebutuhan energi listrik, transportasi, dan industri yang semakin tinggi sudah tidak bisa dengan mengandalkan perluasan lahan baru. Di lain pihak, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim terus terjadi sehingga pembangunan kebun raya sangat penting. Tujuannya tidak hanya untuk melestarikan tumbuhan lokal Indonesia dan perbaikan lingkungan hidup, tetapi juga wahana kegiatan ilmiah dan rekreasi, papar Lukman dalam sambutannya pada acara Diklat Perkebunrayaan Tingkat III Kelas Manajemen dan Teknis bertempat di Kebun Raya Eka Karya Bali, Rabu (3/4) kemarin. Diklat berlangsung selama lima hari, Rabu-Minggu (3-7/4).

Walau demikian, lanjutnya, realisasi pembangunan kebun raya daerah tidak sesederhana itu. Realisasi tersebut membutuhkan perencanaan dan sinergi dengan pemangku kepentingan, pemerintah daerah, kementerian dan industri. Pengembangan kawasan konservasi ex-situ tumbuhan Indonesia dalam bentuk kebun raya merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang upaya pemenuhan ruang terbuka hijau (RTH).

Kami berharap bahwa pengembangan RTH juga dapat mensinergikan pengembangan lingkungan alami dan buatan. RTH akan lebih baik jika memiliki fungsi konservasi dalam rangka melestarikan kekayaan biodiversitas Indonesia, tambahnya.

Menurutnya, pengembangan kebun raya sampai saat ini masih belum memadai. Total luas kebun raya kurang lebih 3.000 hektar, akan tetapi masih dirasa kurang untuk menampung kekayaan bioresources. Diharapkan, ada 47 kebun raya yang merepresentasikan 47 eko region di Indonesia, ujarnya.

Ia optimis bahwa pendirian kebun raya daerah dapat membantu mempercepat realisasi target VIII dari Global Strategy for Plant Conservation (GSPC). Sedikitnya 75 persen dari jumlah jenis terancam dikonservasi secara ex-situ, dan dari jumlah tersebut sedikitnya pula 20 persen tersedia untuk program recovery dan restorasi, tandasnya.

Berikan Bimbingan

Ir. Mustaid Siregar, M.Si., Kepala PKT Kebun Raya Bogor LIPI menandaskan bahwa sangat mendukung pembangunan kebun raya daerah. Dan, pemerintah daerah ternyata juga kini memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap pentingnya kebun raya.

Oleh karena itu, kami dengan senang hati memberikan bimbingan dan pendampingan tentang pengelolaan perkebunrayaan yang baik, papar Mustaid. Hingga saat ini, lanjurnya, PKT Kebun Raya Bogor LIPI telah berhasil melakukan pembinaan dalam pembangunan 21 Kebun Raya Daerah di 17 provinsi di Indonesia.

Ia menjelaskan, konservasi ex-situ tidak hanya terkait dengan penyelamatan lingkungan hidup, tetapi juga pengembangan Iptek, pariwisata, ruang terbuka hijau dan ekonomi. Hal tersebut bisa dicontohkan dengan keberhasilan Kebun Raya Eka Karya Bali dan Kebun Raya Cibodas atas penghargaan Cipta Award 2011 dan 2012 yang diberikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Acara yang berlangsung untuk level manajemen dan teknis ini sendiri dihadiri oleh 21 perwakilan Kebun Raya di daerah seluruh Indonesia. Para peserta antusias menyimak presentasi para pengajar dari Kebun Raya Bogor LIPI, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Diklat berlangsung aktif dan interaktif. Di sela-sela kegiatan, peserta diajak mengikuti garden tour, dan jalan sehat. (yos/pwd)
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Mustaid Siregar

Diakses : 2516