LIPI Beri Solusi untuk Krisis Air Bersih

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Indonesia hingga saat ini masih dibebani permasalahan krisis air bersih di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar. Penerapan teknologi yang terintegrasi dengan sistem pengelolaan berbasis ekosistem setempat dinilai dapat mengatasi permasalahan krisis air. “Selama 10 tahun terakhir, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) konsisten meneliti dan mengimplementasikan konsep pengelolaan air terintegrasi One Island, One Plan, One Water untuk mengatasi krisis air bersih,” ujar Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto di Jakarta pada Kamis (23/3) lalu. Diskusi ini merupakan bagian dari peringatan hari Air Dunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret.
 
Menurut Anto, krisis air yang terjadi di Indonesia terjadi karena pengelolaan air tidak dilakukan secara terintegrasi. “Pengelolaan air harus sesuai dengan rencana tata ruang dan wilayah yang berwawasan lingkungan. Dimulai dari konservasi sumber daya air hingga instalasi pengolahan air limbah dan daur ulang, instrumentasi dan sistem informasi berbasis realtime, analisa air, dan distribusi air bersih pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) melalui penerapan teknologi instrumentasi secara telemetring,” paparnya.
 
Skema pengelolaan ini telah diterapkan oleh LIPI di Bangka Barat, Bangka Belitung  untuk mengolah limbah kolong tambang menjadi air bersih layak minum. “Sumber daya air di Bangka Barat dapat dikatakan sudah sangat terganggu akibat penambangan timah liar sehingga pH air menjadi asam karena tingginya kandungan mineral dalam tanah,” tutur Anto.
 
Lahan Basah dan Sistem Injeksi Reservoir
Untuk mengatasi limbah yang mencemari danau dan waduk, peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Chintya Henny, mengembangkan sistem lahan basah (wetland) untuk menyerap limbah logam berat, nitrogen, dan fosfor. Menurut Cynthia, pendekatan berbasis ekosistem untuk konservasi air meliputi aspek perilaku manusia dan teknologi sangat penting untuk dilakukan.

“Beberapa tanaman yang efektif diantaranya melati air, serta jenis rerumputan seperti cyperus dan bunga kana,” jelasnya. Sistem ini saat ini sedang diaplikasikan di Situ Cibuntu, Cibinong, Jawa barat serta di Danau Maninjau, Sumatera Barat.
 
Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Wahjoe Soeprihantoro,  juga mengembangkan  sistem injeksi reservoir. “Instalasinya berupa sumur terbuka, menara tangki air atau embung, dihubungkan pipa ke lapisan tanah sampai akuifer,” ujar Wahjoe. Menurutnya, ketahanan air sangat berhubungan dengan sumber daya air dan lingkungan, tata kawasan, serta data dan informasi,” pungkasnya.
 
Aksi Bersih Sungai dan Lomba Gambar
Masih dalam rangka peringatan Hari Air Dunia, LIPI melalui Asia Pacific Center for Ecohydrology (APCE-UNESCO) pada Jum’at dan Sabtu (24-25/3) kemarin juga melakukan serangkaian kegiatan di Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat.

Kegiatan pertama adalah Aksi Bersih Danau dan Sungai yang dilakukan di Situ Cibinong dan sungai Cikeas di kelurahan Nanggewer, Cibinong, Jawa Barat. Kegiatan ini melibatkan sekitar 28 lembaga, baik lembaga pemerintah, institusi pendidikan, dan organisasi swasta.

Sedangkan pada Sabtu (25/3), pelajar TK dan SD di sekitar Cibinong mengikuti Lomba Menggambar dan Story Telling bertemakan “Pelestarian Lingkungan dan Pemeliharaan Air”.

Menurut Alie Humaedi dari Divisi Public Awareness APCE-UNESCO, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ekosistem perairan. “Kita mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa air dan sumber daya lingkungannya harus terus menerus dijaga dari berbagai limbah yang dihasilkan, agar bisa memenuhi kebutuhan manusia lintas generasi,” tutup Alie. (msa, akb/ed: fza)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Zainal Arifin M.Sc.