LIPI Harapkan Kemampuan dan Jumlah Taksonom Indonesia Meningkat

 
 
Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi melihat bahwa kemampuan dan jumlah taksonom di Indonesia saat ini masih perlu ditingkatkan. Apalagi bila menyadari pentingnya untuk melengkapi data keanekaragaman hayati bidang kelautan di negeri ini.
 
“Untuk itu, kami sebagai national focal point untuk The IOC Sub-Commission for the Western Pacific (WESTPAC) di bawah United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) bersama dengan Regional Training and Research Center on Marine Biodiversity and Ecosystem Health (RTRC MarBEST Center) menggelar pelatihan taksonomi molekuler khusus di bidang kelautan,” ujar Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah di sela-sela pembukaan Molecular Taxonomy Training di Jakarta, Senin (25/9).
 
Dirhamsyah menuturkan, tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan jumlah taksonom yang saat ini masih minim. Dirinya menyayangkan jumlah taksonom yang sangat sedikit di dunia dibandingkan dengan bidang-bidang lain. “Tidak hanya taksonom perairan, jumlah taksonom darat juga sangat terbatas,” tuturnya.
 
Padahal, wilayah tropis Indo Pasifik khususnya wilayah Indonesia dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Namun, masih banyak spesies laut tropis yang masih belum ditemukan. “Jangan sampai spesies-spesies ini belum teridentifikasi namun malah punah duluan,” imbuhnya.
 
Oleh karena itu, Dirhamsyah katakan, diperlukan jumlah taksonom yang lebih banyak lagi dan kemampuan untuk mengungkap sumber daya kelautan di Indonesia. Selain itu, pelatihan taksonomi diharapkan mendukung rencana dan strategi konservasi untuk spesies maupun takson tertentu, serta untuk mengetahui status ilmiah struktur jaring makanan dan komunitas biota laut dalam ekosistem tertentu termasuk muara, lamun, mangrove, terumbu karang, pelagis, dan ekosistem laut dalam. “Tidak hanya itu, kedepannya diharapkan dapat pula membantu rencana dan strategi pengelolaan lingkungan kelautan di ekosistem tertentu,” tambahnya.
 
Untuk diketahui, pelatihan taksonomi molekuler di bidang kelautan ini merupakan yang pertama kali diadakan di Indonesia. Pelatihan ini digelar karena studi taksonomi molekuler melalui analisis barcode DNA dan metabarcode DNA terhadap organisme laut tengah giat dikembangkan sebagai upaya memvalidasi, meninjau, dan melengkapi status keanekaragaman hayati laut di wilayah tropis.
 
Pelatihan taksonomi diselenggarakan pada 25 September hingga 6 Oktober 2017. Jumlah aplikasi calon peserta pelatihan mencapai 93 aplikasi. Dari aplikasi itu, terpilih 21 aplikasi dan sembilan di antaranya berasal dari luar Indonesia.
 
Sebagai informasi pula bahwa pelatihan taksonomi ini melakukan analisis barcode DNA tunggal dan studi metabarcoding terhadap berbagai organisme laut di wilayah tropis termasuk vertebrata laut (mamalia, reptil, ikan, burung), invertebrata laut (serangga, moluska, polychaeta & annelida, krustasea, coelenterata, cnidaria, ekhinodermata), plankton laut, bakteri dan virus laut, serta untuk tanaman laut (alga dan rumput laut). (msa/ed: pwd)



 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.