LIPI Ingin Memberi Citra Baik untuk Profesi Peneliti

 
 
(Jakarta, 24 Mei 2013 Humas LIPI). Lima pelajar terbaik Indonesia berlaga di ajang Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2013 di Arizona, Amerika Serikat pada 15-17 Mei 2013 lalu .

Kelima pelajar tersebut adalah Jovita Nathania, Maria Christina Yolenta Lestari, Rosinta Handinata dari SMA Tarsisius 1 Jakarta, Hani Devinta Sari dari SMA Negeri 63 Jakarta, dan Muhammad Imadudin Siddiq, pelajar SMAIT Insantama, Bogor. Mereka adalah para juara kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI tahun 2012 lalu.

Dalam ajang yang diikuti 1.500 ilmuwan muda seluruh dunia yang bersaing memperebutkan hadiah senilai lebih dari US$ 3 juta ini, Indonesia menorehkan prestasi melalui karya permainan kartu yang berisikan aneka informasi mengenai terumbu karang karya dari Jovita, Maria, dan Rosinta.

Mereka mengadopsi permainan kartu uno yang banyak digemari anak-anak agar edukasi peran penting terumbu karang menjadi mudah dan menyenangkan. Kategori Special Award Organization dengan hadiah senilai US$ 1.000 dari Consortium for Ocean Leadership, sebuah lembaga non profit di Washington DC, yang menaungi 102 institusi riset kelautan di Amerika Serikat berhasil diraih.

Karya ilmiah lain yang juga dipamerkan adalah Magic Test Paper: Pemanfaatan Ekstrak Bunga Telang untuk Uji Formalin Makanan karya Hani Devita Sari dan Limbah Cangkang Telur sebagai Anti Semut untuk Plastik Wadah Makanan karya Muhammad Imadudin Siddiq.

Redaksi LIPI News berkesempatan mewawancarai Dr. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI yang juga Ketua Delegasi Indonesia pada ajang yang telah berlangsung sejak tahun 1950 ini. Berikut petikan wawancaranya

Ini adalah kali ketiga pelajar Indonesia mendapat penghargaan di ajang Intel ISEF. Sebetulnya apa hal yang ingin dicapai dari keikutsertaan di ajang ini
Penghargaan tadi bukan tujuan, namun langkah kecil dalam program jangka panjang untuk menanamkan minat menjadi peneliti. Mereka yang kemarin ke Arizona menjadi terbuka wawasannya, mempunyai banyak teman, dan menjadi spesial di masyarakat. Dengan begitu tertanam attitude untuk menjadi peneliti dan terus melakukan penelitian.

Mengapa attitude tadi begitu penting
LIPI ingin label peneliti melekat dan itu membuat pola pikir mereka lebih maju. Kalaupun mereka tidak bekerja sebagai peneliti , kebiasaan meneliti itu akan menjadi nilai tambah bagi karir mereka.

Apakah ini terkait dengan program jangka panjang LIPI untuk menarik minat generasi muda Indonesia menjadi peneliti
LIPI ingin memberi citra baik untuk profesi peneliti. Jumlah peneliti yang ideal per 1 juta penduduk adalah 300 sampai 400 peneliti, sementara di Indonesia tidak sampai jumlah 30 peneliti. Belarusia dengan penduduk hanya 10 juta jiwa saja punya 36 ribu peneliti.

Bila dibandingkan keikutsertaan tahun lalu apakah ada perbedaan
Tahun ke tahun situasi dan faktanya berbeda. Tujuan mengikuti ajang ini bukan berapa kemenangan yang didapat namun dampaknya. Menanamkan sifat kepedulian yang menjadi attitude peneliti.

Kelima pelajar yang ke Arizona ini adalah pemenang kompetisi LKIR yang diadakan LIPI. Apakah ada rekomendasi pelaksanaan LKIR selanjutnya agar bagi mereka yang dikirim ke ajang Intel ISEF ini dapat unjuk gigi dengan maksimal
Intel ISEF adalah kompetisi ilmiah yang pesertanya dari ajang kompetisi ilmiah yang terafiliasi dengan Intel. Di Indonesia hanya LKIR dari LIPI. Kelemahan pelajar kita adalah pemalu. Sangat berbeda dengan pelajar-pelajar dari Amerika misalnya. Mereka pemberani. Ini karena faktor sistem pendidikan. Disana guru memandang murid sebagai partner.
Kita akan melakukan perubahan penjadwalan. Jadi sebelum bulan September sudah ada pembinaan finalis sehingga mereka yang menang adalah yang sudah siap. Kita bukan mencari yang paling pintar namun yang paling siap untuk jadi peneliti.

Bagaimana pembinaan kedepan untuk mereka juga para pemenang kompetisi ilmiah LIPI lainnya
Untuk pembinaan sebelum keberangkatan kemarin kita memilih mentor-mentor yang memang care pada anak-anak. Kita juga terus menjalin komunikasi intensif dengan pememang tahun kemarin. Seperti Muhammad Luthfi Nurfakhri dari SMAN 1 Bogor yang tahun kemarin memenangkan peringkat ketiga kategori teknik dan mendapatkan penghargaan sebesar US$ 1.000 untuk proyek Digital Leaf Color Chart. Dia bahkan menawarkan diri untuk membantu membimbing. Saat ini dirinya sudah diterima untuk melanjutkan studi di Australia namun belum ada beasiswa. Kami sudah mengajukan permohonan kepada Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan dijanjikan akan dibantu. Kita juga akan undang mereka di Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional pada bulan Juni sampai Juli besok di Boyolali. Hasil-hasil penelitian yang kemarin dipamerkan juga dilirik oleh beberapa perusahaan untuk diproduksi massal. Kalau mereka ingin mengajukan paten untuk hasil peneltiannya kita akan bantu.
Sumber : Humas LIPI

Sivitas Terkait : Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono

Diakses : 1555