LIPI: Krisis Regenerasi Petani, Masalah Serius di Pedesaan

 
 
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam riset terbarunya mengungkap adanya problem serius di pedesaan yakni krisis regenerasi petani dari petani tua ke generasi muda di desa.

Hasil penelitian ini kemudian didokumentasikan dalam film dokumenter berdurasi 15 menit "Srono Urip: Modernisasi dan Krisis Regenerasi Petani di Pedesaan. "

Riset yang merupakan bagian riset unggulan tahun 2015-2017 ini mengambil lokasi di tiga desa wilayah eks Karasidenan Surakarta yakni Sragen, Klaten dan Sukoharjo. Daerah ini dipilih karena dikenal sebagai lumbung beras.

Koordinator Sub Program Penelitian Sosial Budaya LIPI Herry Yogaswara mengatakan melalui film ini mencerminkan ada masalah serius yakni regenerasi petani.

"Bisa dibayangkan jika 10-20 tahun ke depan kaum muda tidak mau jadi petani, siapa yang memproduksi pangan. Ketidakmauan itu karena sebab alamiah atau skematis dan apakah kita akan jadi negara impor, " katanya dalam diskusi publik dan pemutaran film Srono Urip, di Gedung LIPI, Jakarta, Jumat (2/10).

Herry menambahkan dalam film ini juga menunjukkan kegawatan problem di pedesaan yang sifatnya tidak kelihatan, tidak drastis, pelan-pelan tapi pada ujungnya akan membawa dampak luar biasa.

Koordinator Penelitian yang juga Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI YB Widodo mengungkapkan tim penelitian memfokuskan masalah regenerasi petani dalam hubungan antara modernisasi dengan konstruksi pemuda di pedesaan melalui empat hal yaitu keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian.

"Modernisasi yang dijalankan melalui keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian telah membentuk pemuda pedesaan sebagai sumber daya manusia yang bersifat modern, " ucapnya.

Pemuda modern ini terdorong bermigrasi dari desa ke kota dan meninggalkan pertanian skala kecil di pedesaan. Pekerjaan sebagai petani dianggap kotor, menyusahkan dan pendapatannya kecil. Ketika ada pabrik di sekitar wilayah desa yang berwajah kota, pemuda lebih memilih bekerja di pabrik.

"Betapa sulitnya melanjutkan pertanian kita. Kalaupun dilakukan modernisasi di pertanian, apakah generasi muda akan tetap kembali ke desa, " ujarnya.

Ke depan agar lebih representatif, penelitian serupa akan dilakukan pula di Maros, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Menurut peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Gutomo Bayu Aji selain Jawa di wilayah lain juga akan dilakukan penelitian agar ada persebaran dan gambaran yang lebih luas.

Berkaca pada tidak adanya regeneraai petani, ia memandang perlunya menciptakan lapangan kerja di desa khususnya di sektor pertanian.

"Perlu pula mendorong kurikulum pendidikan sehingga dunia pertanian masuk ke kurikulum pendidikan di tingkat dasar dan anak-anak diajarkan lingkungan pertanian. Itu yang belum ada saat ini, " paparnya.

Selain itu teknologi dan variasi teknik budidaya pertanian juga perlu dibudayakan di kalangan pemuda pedesaan pada situasi lahan pertanian yang terbatas misalnya melalui hidroponik. Bahkan bisa pula variasi jenis tanaman non pangan yang sesuai kebutuhan pasar.

Suara Pembaruan

Ari Supriyanti Rikin/AF
Sumber : Beritasatu.com, 2 Oktober 2015

Sivitas Terkait : Herry Jogaswara

Diakses : 918