LIPI: Masalah Kekerasan di Papua Sudah Lama Terjadi

 
 

Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Muridan S Widjojo mengatakan benturan politik yang terjadi di Papua sudah terjadi sejak lama dan telah meluas yang kini menjadi sangat kompleks dan sulit dicari akar permasalahannya.

Menurutnya, dialog merupakan langkah penting untuk menyamakan apa penyebab dari masalah yang terjadi di Papua selama ini.

"Benturan politik ini sudah meluas dan lama sekali. Dialog penting untuk membuat masyarakat Papua dan pemerintah sepakat mengenai akar masalah. Jakarta bilang karena Papua itu miskin, terbelakang, tidak menikmati pembangunan maka mereka minta merdeka. Orang Papua bilang tidak. Itu perlu kesepakatan, dialog membuka jalan untuk itu, " ujar Muridan, saat ditemui usai rapat bersama Komisi I DPR, Selasa (15/11).

Muridan menambahkan LIPI melihat ada empat masalah yang terjadi di Papua. Pertama, masalah sejarah dan status politik di mana orang Papua merasa status politiknya belum beres dengan Indonesia. Kedua, adanya konflik-konflik yang tidak terselesaikan digelar operasi militer dari tahun 1965 hingga ini.

LIPI mencatat ada beberapa daftar kekerasan negara dan pelanggaran HAM yang membuat masyarakat Papua semakin sakit hati terhadap Indonesia.

"Luka kolektif terpendam lama. Dan itu di Papua disosialisasikan melalui di-honai-honai, Dulu kau punya bapak yang disiksa tentara Indonesia . Itu terus ditanamkan. Makanya, anak-anak muda sangat radikal dan anti Indonesia. Jadi, akar masalah kedua kekerasan negara dan pelanggaran HAM yang tidak pernah dipertanggungjawabkan, " tambahnya.

Ketiga, proses-proses itu membuat orang Papua distigma, kemudian ada marginalisasi dengan migrasi, pembangunan, orang papua tersingkir. keempat, gagalnya pembangunan yang menjadi ukuran pendidikan, kesehatan dan ekonomi rakyatnya.

"Di papua paling gampang menemukan sekolah SD yang nggak jalan. Satu sekolah gurunya satu. Puskesmas kosong. Negara tidak hadir di bagian-bagian orang Papua membutuhkan, " ujarnya.

Sementara itu, Muridan mengatakan masih ada tembok ketidakpercayaan antara pemerintah dan masyarakat Papua. Pemerintah masih sering menilai omongan masyarakat Papua tidak benar karena melihat hanya berujung pada aksi OPM. Aksi kekerasan dan pelanggaran HAM juga sering mewarnai tanah Papua. (/OL-10)

Media Indonesia, 15 November 2011

Sivitas Terkait : Muridan Satrio Widjojo

Diakses : 2216