LIPI Perkenalkan Pola Cocok Tanam Sehat untuk Masyarakat Rambang Kuang

 
 
Ogan Ilir, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI, dan Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan menggelar kegiatan Diseminasi Iptek LIPI dengan tema “Pemanfaatan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Daerah”. Dalam kegiatan ini, LIPI berbagi pengetahuan mengenai peningkatan hasil cocok tanam melalui Pupuk Organik Hayati, teknologi budidaya tanaman serta membagikan 600 bibit mangga manalagi, 700 bibit durian montong, 400 klengkeng, dan 500 bibit duku  kepada masyarakat di Rambang Kuang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan pada Selasa (14/8).

Rambang Kuang merupakan kecamatan terluas di kabupaten Ogan Ilir. Kecamatan berpenghuni sekitar 20.000 jiwa ini karakteristik lahannya terdiri dari lahan kering, lahan tadah hujan dan rawa-rawa. Kegiatan ekonomi ditopang dari minyak bumi, gas alam, serta kegiatan perkebunan dan pertanian. “Sebagian besar masyarakat Rambang Kuang bermata pencaharian sebagai petani karet. Permasalahan yang kami hadapi adalah mahalnya harga pupuk sementara hasil panen karet dihargai amat murah,” ungkap Rochim, Ketua Badan Permusyaratan Desa (BPD) Rambang Kuang.

Sarjiya Antonius, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI memberikan cara pembuatan Pupuk Organik Hayati. Pupuk ini merupakan salah satu produk unggulan hasil riset LIPI yang telah diperkenalkan kepada masyarakat sejak tahun 2011 dan telah digunakan oleh masyarakat di 90 wilayah di Indonesia. “Pupuk organik adalah pondasi dasar dalam bercocok tanam, bukan pupuk kimia, pestisida dan lain-lainnya,” jelas Anton.

Sementara Mustaid Siregar dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI mengajak masyarakat Rambang Kuang untuk memelihara tanaman buah lokal. “Sebanka 94 persen jenis buah buahan Asia Tenggara, ada di Indonesia. Sayangnya justru buah impor yang banyak kita nikmati,” ungkapnya.

Anggota Komisi VII DPR, Yulian Gunhar berharap kehadiran LIPI mampu mampu meningkatkan kualitas hidup di Ogan Ilir, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil bercocok tanam. “Mari kita berpikir ke depan, kita lestarikan yang ada, kita tanam yang unggul-unggul, agar anak cucu menikmati” pesannya. (gst/ed: fza, dig) 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr.rer.nat Sarjiya Antonius