LIPI Prihatin, Indonesia Kaya SDA Miskin Teknologi

 
 
LIPI menggelar kompetisi ilmiah untuk bangkitkan budaya meneliti.

VIVAnews -- Budaya meneliti untuk menghasilkan inovasi yang berguna bagi bangsa perlu terus digalakkan. Tak hanya untuk menjawab permasalahan yang dihadapi, juga agar Indonesia lepas dari ancaman kekurangan ilmuwan.

Untuk merangsang munculnya inovator muda, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 25-26 September 2012.

Kompetisi ini terdiri dari serangkaian lomba, di antaranya Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-44, Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) ke-20, Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-11 dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-5.

Menurut Kepala LIPI, Lukman Hakim, serangkaian kompetisi ilmiah ini diselenggarakan sebagai upaya membangkitkan budaya meneliti bagi kalangan remaja dan para pengajar. "Negara-negara yang maju di bidang iptek, pembinaan penelitiannya dilaksanakan sedari dini dengan afiliasi melalui institusi penelitian dan pendidikan formal, " kata Lukman Hakim.

Ia menambahkan, kompetisi ilmiah ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kesadaran penelitian bagi guru dan generasi muda terhadap iptek, sehingga implementasi iptek ini diharapkan bisa menjadi solusi teknologi di masa depan.

"Indonesia ada calon negara dengan perekonomian yang kuat di tahun 2025. Namun, kedudukan Indonesia di masa depan, kita patut prihatin. Banyaknya sumber daya alam tapi tidak dimanfaatkan menjadi teknologi yang baik. Teknologi adalah tolak ukur kemajuan suatu negara, " tambah Lukman Hakim.

Kepala Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Yusuar mengatakan ada 93 karya ilmiah yang menjadi finalis 4 kompetisi tersebut. "Nantinya semua finalis dari kompetisi ilmiah ini akan mempresentasikan karyanya di depan dewan juri, " kata Yusuar.

LIPI juga terus berupaya agar karya-karya ilmiah ini tidak berhenti di sini, tapi para finalis lomba ini akan mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya-karyanya di luar negeri.

"Kami berkerjasama dengan Intel Indonesia untuk memberangkatkan para finalis ini untuk berkompetisi di luar negeri. Namun, ada penilaian tersendiri untuk mengirimnya ke luar negeri, karena persyaratannya cukup sulit. Biasanya yang dikirim 3 tim, ada perorangan dan grup, " tambah Yusuar. (eh)
Sumber : Vivanews.com (Selasa, 25 September 2012)

Diakses : 1667