LIPI Siap Bantu Startup dari Sisi Teknologi

 
 
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong pengembangan teknologi untuk startup atau perusahaan rintisan skala kecil. Hal itu, merupakan bagian dari mendorong ekonomi kreatif yang memiliki usia lebih panjang.

Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko, peluang startup company di bidang ekonomi kreatif cukup besar untuk menembus pasar global. Oleh karena itu, LIPI terus membantu para pelaku startup untuk mengembangkan teknologinya.

"Kami melihat di ekonomi kreatif ini banyak bidang yang dapat bertahan cukup panjang, " ujar Handoko kepada wartawan, Senin (5/10).

Ketahanan mereka, kata dia, akan semakin berdaya bila dibantu dari sisi teknologinya. "Di situlah peran kami, " katanya.

Setelah teknologinya diciptakan, kata dia, kerja sama antara LIPI dengan start up company hanya di tataran lisensi pemanfaatan teknologinya. Saat ini LIPI tengah membantu pembuatan radar seharga Rp 2-3 juta. Radar itu ukurannya cukup kecil dan nantinya akan digunakan oleh nelayan.

Jadi, kata dia, Kementrian Kelautan dan Perikanan dapat memantau keberadaan nelayan ilegal dari radar itu. Selain itu, kondisi nelayan selama di laut akan terpantau.

Handoko mengatakan, untuk membantu startup, LIPI membuka infrastruktur risetnya untuk diakses oleh semua orang. Peran LIPI sebagai penyedia infrastruktur dapat membantu mereka mengembangkan usahanya. Saat ini, kapasitas computing LIPI dapat mencapai 20 rak penuh. Tapi yang kini dipergunakan baru mencapai 8 rak atau setara dengan 60 terabita (TB).

Selain itu, kata dia, intuk keterampilan riset peneliti LIPI telah bekerja sama dengan sejumlah negara seperti Belanda, Taiwan, dan negara-negara Eropa lainnya. Handoko menyebutkan LIPI sebagai lembaga sains utama harus masuk ke dalam pergaulan global. Karena, kalau tidak mengikuti maka kita akan ketinggalan. "Para peneliti kita pun dapat belajar banyak dan mengembangkan kemampuannya, " kata Handoko.

Kesepakatan kolaborasi global terbaru yang ditandatangani adalah European Council for Nuclear Research (CERN). LIPI berkontribusi sebesar Rp 100 juta dan mengirimkan 6-8 orang untuk meneliti selama 3 bulan. Hal itu memungkinkan peneliti di LIPI memperoleh akses teknologi terkini.

Riset yang dikerjasamakan berkaitan dengan bigdata, sensor, dan fisika. Ketiga bidang itu, membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan cepat. Karena ilmu di bidang tersebut berkembang dengan pesat. Jadi, diperlukan kemampuan untuk membangun infrastruktur dan mengembangkan perangkatnya.
Sumber : Republika.co.id, 5 Oktober 2015

Sivitas Terkait : Laksana Tri Handoko

Diakses : 1957