LIPI Tekankan Kesetaraan Gender dalam Proporsi yang Tepat

 
 

Jakarta, Humas LIPI. Peringatan Hari Kartini yang telah berlangsung pada 21 April 2018 lalu merupakan momen penting untuk merayakan peran penting perempuan dalam berbagai bidang. Khusus di bidang sains, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berupaya mendorong wanita Indonesia untuk membangun sains dan mengajak mereka agar tidak takut menggeluti bidang yang masih dianggap kurang feminim.
 
Dalam konteks ini, LIPI senantiasa berupaya menempatkan kesetaraan gender dalam proporsi yang tepat. Buktinya adalah lembaga ini membuka kesempatan yang sama pada seluruh peneliti perempuan untuk melakukan riset yang sesuai ketertarikannya tanpa membedakan gender. 
 
“Jumlah pegawai LIPI hingga saat ini memiliki porsi yang hampir seimbang pula terkait gender,” jelas Tri Nuke Pudjiastuti, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI pada Diskusi Publik “Wanita Tangguh dalam Iptek Bangsa”, Jumat (20/4/2018), di Media Center LIPI Pusat Jakarta.
 
Nur Tri Aries Suestiningtyas, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas (BKHH) LIPI, menyambung bahwa jumlah pegawai perempuan saat ini sebanyak 2.835 dari total pegawai 4.449 orang. “Total peneliti perempuan di LIPI sebesar 45% atau 779 peneliti wanita dari total 1.712 peneliti,” ungkapnya.
 
Bahkan, beberapa peneliti perempuan di LIPI juga berani terjun dalam bidang-bidang yang terbilang ekstrim. Lihat saja, contohnya adalah Hellen Kurniati Hellen Kurniati, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI.
 
Hellen berani menggeluti bidang penelitian yang tak biasa terkait buaya dan suara kodok. Dia pun mempelajari tentang pola perilaku buaya secara detil. Tidak hanya itu, dirinya juga tekun dalam penelitian tentang pola perilaku kodok dan juga suaranya untuk kepentingan konservasi.
 
Dia mengatakan, kendati dirinya adalah perempuan, namun tidak ada perbedaan perlakuan terhadapnya. “Selama saya berkarir di LIPI tidak pernah ada perbedaan perlakuan bagi peneliti perempuan atau laki-laki. Semua diperlakukan sama wajib melakukan penelitian lapangan,” jelas Hellen.
 
Dirinya bercerita saat penelitian lapangan terkait buaya tidak pernah menggunakan pawang buaya. Wanita tangguh ini bahkan langsung mendatangi buaya dengan perahu dan alat bantu senter saja.
 
Tak hanya Hellen, peneliti lain yang menggeluti bidang yang tidak biasa adalah Maria Margaretha Sulianti, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI. Fokus bidang penelitiannya adalah laser.
 
Dia saat ini fokus mengembangkan aplikasi laser dan pembuatan penyerap gelombang RF. “Salah satu penelitian kami telah membuktikan bahwa karbon aktif dari serabut kelapa terbukti meningkatkan penyerapan gelombang elektromagnetik,” terang Maria.
 
Selain Maria, Mutia Dewi Yuniati, peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI juga menekuni bidang penelitian yang tidak biasa. Fokus penelitiannya terkait mineral processing seperti remidiasi atau kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Selain itu, Mutia juga melakukan riset tentang rekayasa mineral untuk pengolahan limbah tambang. (lyr/ed: pwd,dig)





 

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.