LIPI Teliti Ikan di Bendungan Sutami

 
 

MALANG (Media): Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Malang, Jawa Timur, melakukan uji laboratorium terhadap insang dan empedu ikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung. Uji tersebut dilakukan guna mengetahui kadar kimia pada ikan akibat limbah industri.

Itu dilakukan untuk menanggapi protes warga Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, yang mengeluh akibat banyak ikan mati hingga menimbulkan bau busuk di Bendungan Sutami sejak dua minggu lalu.

"Hingga saat ini, kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari LIPI Bandung, untuk mengetahui kadar kimia yang terkandung dalam ikan yang mati, " kata Sekretaris Perum Jasa Tirta I Jawa Timur, Harianto, kepada wartawan dalam acara penjelasan kasus pencemaran lingkungan di Bendungan Sutami beberapa waktu lalu.

Menurut Harianto, hasil uji laboratorium tersebut guna mengetahui unsur kimia, antara lain fenol (pestisida, petroleum, tekstil, dan kayu), potas, dan sianida. Namun, untuk sementara hasil analisis terhadap banyaknya ikan yang mati itu disebabkan oleh blooming algae dan berkurangnya kadar oksigen dalam air karena kemarau.

"Debit air berkurang dengan banyaknya sinar matahari yang masuk, mengakibatkan oksigen berkurang. Dapat dilihat, ikan yang mati tersebut dengan gejala menggelepar, " ujarnya.

Berdasarkan perhitungan Perum Jasa Tirta terhadap kandungan oksigen di Bendungan Sutami, dalam satu minggu terakhir cenderung menurun dari 57 persen menjadi 43 persen (hasil penelitian 30/8 hingga 31/8).

Namun, tidak dimungkirinya bahwa selain akibat berkurangnya kadar oksigen di dalam air, kecenderungan terjadinya pencemaran lingkungan juga disebabkan oleh limbah industri, limbah domestik, dan limbah pertanian.

Secara rinci, Harianto menjelaskan, kecenderungan besarnya kandungan limbah industri yang mencemari air waduk itu berasal dari limbah pemotongan hewan, pabrik kertas, pabrik gula, dan pabrik tepung tapioka.

Sementara, unsur kimia yang berpotensi mencemari bendungan, selain banyaknya algae, juga terdapat kandungan fospat, nitrogen, dan sulfida. Di samping pula akibat erosi karena penebangan hutan.

Menyambung penjelasan Harianto, Kepala Dinas Pertambangan Energi, Sumber Daya Mineral dan Analisis Dampak Lingkungan, Budi Iswoyo dalam pertemuan itu mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah mencurigai sedikitnya 20 perusahaan yang berpotensi mencemari Bendungan Sutami.

Budi menjelaskan, 20 perusahaan itu antara lain 15 perusahaan berlokasi di Kabupaten, 5 perusahaan di Kota Malang dan Kota Batu. Namun, dari perusahaan yang dicurigai itu, dia telah melakukan klasifikasi perusahaan yang dominan berpotensi mencemari Bendungan Sutami, yaitu perusahaan kertas, tapioka, kulit, dan peternakan babi.

"Kita tidak bisa gegabah memvonis salah satu perusahaan, karena saat ini masih menunggu hasil uji laboratorium, " ujarnya.

Sementara itu, terkait banyaknya ikan yang mati itu, Budi tidak bisa memutuskan apakah ikan-ikan itu masih boleh dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. "Sudah saya sampaikan kepada masyarakat, tetapi kita tidak bisa melarang agar tidak mengonsumsi ikan, " katanya. (BN/V-2)

Sumber : Media Indonesia (14 September 2004)

Diakses : 431