LIPI dan Kemristek Kembangkan Sel Surya Berbasis Pewarna

 
 
SOLO (KRjogja.com) - Sejumlah peneliti dari lima perguruan tinggi di Jawa bersama peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membentuk konsorsium untuk mengembangkan energi alternatif sel surya berbasis pewarna atau Dye Sensitezed Solar Cell (DSSC). Sel surya berbasis pewarna ini diyakini mampu menjadi sumber energi murah bagi Indonesia.

Kepala bidang riset iptek energi dan material maju Kemenristek Dr Syafaruddin menjelaskan Indonesia memiliki kekayaam bahan silikon. Namun untuk mengembangkan sel surya silikon sangat sulit. Sekarang para peneliti telah menemukan teknologi lain yang relatif lebih mudah dan murah yakni memakai titanium dioksida serta bahan pewarna. Titanium yang dikasih bahan pewarna itu juga punya sifat menangkap energi Matahari.

"Bahan silika sebenarnya banyak kita miliki, namun teknologinya tidak murah. Dengan Titanium dan bahan pewarna ternyata lebih mudah dan murah. Karena itu Kemenristek mendorong agar teknologi pembuatan sel surya berbasis pewarna bisa ditangani secara mandiri, " jelas Dr Syafarudin saat peluncurkan Grup Riset Dye Sensitized Solar Cell di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (03/12/2013).

Sementara Kepala Bidang Bahan dan Komponen Mikroelektonika LIPI Bandung Dr Goib Wiranto mengaku sudah menghimpun kemampuan peneliti yang tersebar di Universitas Ma-Chung Malang kemudian ITB, UGM, Undip dan UNS untuk menyatukan visi tentang isu energi terbarukan. "Semua tahu kebutuhan energi kita terus meningkat, sementara program mencari energi alternatif menemui jalan buntu. "

Tanpa dipatok target waktu, kata Dr Goib para peneliti telah bersemangat untuk membuat sel surya yang mampu mengkonversi energi matahari menjadi listrik. Ini merupakan terobosan membuat energi alternastif berbahan bakar non fosil. Intinya konsorsium ingin memanfaatkan Matahari sebagai sumber energi murah.

Sementara ini bahan bakar solar cell DSSC diperoleh dari Bangka Belitung yakni limbah dari timah. Titanium dioksida T1O2 didapat dari Ilmenite (FeTiO2). Sedangkan pewarna (dye) bisa bersumber pewarna alami dan sintetis. Pewarna alami bisa diambil dari bunga mawar, rosela dan sebagainya.

Syafarudin menambahkan Indonesia punya energi Matahari yang cukup tinggi. Setiap luasan 1 M2 rata-rata bisa dipanen 4800 Wh. Daerah yang paling rendah adalah Bogor 2500 Wh dan yang paling tinggi Irian sampai 5700 Wh. Kita sangat beruntung karena berada di daerah katulistiwa. (Qom)
Sumber : Kedaulatan Rakyat Online, 3 Desember 2013

Sivitas Terkait : Goib Wiranto

Diakses : 342