LIPI dan Masyarakat Asian PGPR Dorong Petani Beralih ke Pupuk Organik Hayati

 
 
Kota Bogor, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan Masyarakat Asian Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) mendorong agar para petani untuk beralih menggunakan pupuk organik hayati ketimbang pupuk kimia dalam bercocok tanam. Ini mengingat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang akan merusak tanah dan lahan pertanian.
 
Sarjiya Antonius, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang juga anggota dari Masyarakat Asian-PGPR menuturkan, kekhawatiran yang terjadi pada petani Indonesia saat ini adalah kiblat mereka dalam penggunaan pupuk kimia atau non organik. Sekarang, banyak petani Indonesia yang masih menggunakan pupuk kimia. “Ini sesuatu yang membahayakan dalam jangka panjang,” tutur Anton kepada rekan media di sela-sela Konferensi Internasional Ke-5 Asian-PGPR di Kota Bogor, Jawa Barat pada Senin (17/7).
 
Anton katakan, bila penggunaan pupuk kimia dibiarkan dalam kurun waktu setidaknya 25 tahun, maka bisa dibayangkan akan terjadi kerusakan pada tanah dan lahan pertanian yang signifikan. Oleh karena itu, para petani perlu didorong agar beralih menggunakan pupuk organik hayati, salah satunya pengaplikasian PGPR atau kerap disebut Rizobakteri.
 
PGPR merupakan bakteri yang berkoloni dengan perakaran dan mendukung kekebalan, pertumbuhan dan perkembangan tanaman berkat kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh (ZPT). Selain itu, ia juga menjadi biokatalis untuk mendukung tersedianya NPK dan asam-asam organik penting lainnya bagi tanaman. “Intinya, PGPR sebagai agen pelestarian lingkungan menjaga biodiversitas mikroba perakaran guna mendukung pertanian ramah lingkungan yang dapat meningkatkan hasil pertanian,” jelas Anton.
 
Dikatakan Anton, salah satu perusahaan yang telah merasakan manfaat  PGPR adalah perkebunan nanas Great Giant Pineapple. Sebelum menerapkan PGPR, produksi nanas di perusahaan tersebut terus turun dari tahun ke tahun.



Produksi yang tadinya 100 ton menyusut sampai titik terendah. “Sesudah menerapkan PGPR ini ada perubahan, produksi terus naik kini menjadi 80 ton, harapannya dalam dua tiga tahun kembali normal ke 100 ton,” sambungnya.
 
Ubah Pola Pikir
 
Sementara Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI mengatakan, tantangan yang dihadapi saat ini adalah mengubah pola pikir masyarakat petani dari penggunaan pupuk kimia menjadi pupuk organik hayati. "Selama ini petani di negara kita masih berorientasi menggunakan pupuk kimia, padahal jika terus dibiarkan, tidak baik untuk ke depannya. Ini yang harus didorong, melalui PGPR ini bagaimana mengajak petani untuk bercocok tanam secara organik," tuturnya.
 
Menurutnya, memang tidak mudah meyakinkan petani untuk beralih 100 persen ke pupuk organik. Skema yang bisa dibangun adalah 50 dibanding 50. “Tetap menggunakan pupuk kimia, namun menambahkan pupuk organik agar produksi tetap bertahan dan meningkat,” ujarnya.
 
Ke depan, Enny menyebutkan agar produk PGPR lebih mudah dalam pengaplikasiannya, maka formula produk ini akan dikembangkan lebih lanjut dengan spesifikasi berbeda pada setiap tanaman. “Termasuk varian lain, misalnya tidak cuma berbentuk cair, tapi bisa juga dalam bentuk tepung supaya lebih mudah dipakai oleh masyarakat,” imbuhnya.
 
Sebagai informasi, peralihan pupuk kimia ke pupuk organik hayati di petani Indonesia menjadi bahasan utama dan salah satu studi kasus yang dibahas dalam konferensi internasional Asian-PGPR. Konferensi ini dihadiri para peneliti, pakar dan juga kalangan industri dari 20 negara, antara lain Indonesia, India, China, Taiwan, Korea, Pakistan, Kazakhstan, Jepang, Filipina, Malaysia, Saudi Arabia, Iran dan Hongkong. Selain itu, ada pula negara di luar Asia yang turut berpartisipasi, seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia, Australia, Austria, Kanada dan Trinidad & Tobago.
 
MS Reddy, Ketua Masyarakat Asian-PGPR yang juga pendiri organisasi tersebut mengungkapkan, konferensi kali ini menjadi ajang bertemunya para peneliti dan pakar dari berbagai negara untuk saling bertukar informasi dan pengalaman dalam mengaplikasikan PGPR di pertanian.
 
Ia menambahkan konferensi Asian PGPR yang digelar selama empat hari dari 17-20 Juli ini merupakan yang kelima kalinya. Sebelumnya juga sudah diselenggarakan di sejumlah negara, di antaranya India, China, Vietnam, Manila dan saat ini di Indonesia, tutupnya.



Untuk diketahui dalam konferensi internasional tersebut, MS Reddy secara khusus mewakili Masyarakat Asian-PGPR memberikan penghargaan khusus bagi Sarjiya Antonius selaku ketua panitia penyelenggara konferensi. Penghargaan ditujukan sebagai apresiasi terhadap kesuksesan penyelenggaraan acara tersebut. (pwd,dnh/ed: isr)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr.rer.nat Sarjiya Antonius