LIPI kembangkan bioelektrik

 
 

Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Telimek LIPI) mengembangkan bioelektrik dengan memanfaatkan kotoran sapi dari peternakan di Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung untuk pembangkit listrik.

Peneliti P2 Telimek LIPI Aep Saepudin mengatakan alat bioelektrik yang diciptakan dengan kapasitas bahan baku 2.500 liter bisa menghasilkan energi listrik sebesar 700 watt yang bisa bertahan hingga 7 jam.

"Bahan bakunya dari kotoran sapi dan air dengan volume satu berbanding dua. Masyarakat juga bisa memanfaatkan pupuk organik yang dihasilkan dari alat bioelektrik ini untuk lahan pertanian, " katanya di Bandung, kemarin.

Dia mengatakan LIPI juga mengembangkan alat serupa di Jambi, Bali, dan Papua dengan bahan baku dari kotoran hewan yang bisa dimanfaatkan untuk penerangan dan penggerak alat-alat pada kegiatan ekonomi masyarakat.

Menurut dia, bioelektrik di Jembrana Bali digunakan untuk menggerakkan pemarut kelapa karena kawasan itu merupakan sentra industri kelapa, dengan bahan baku bioelektriknya dari kotoran ternak babi.

"Kami mengharapkan alat ini bisa dimanfaatkan untuk penerangan. Kami kerja sama dengan Koperasi Telimek dalam memproduksi alat ini, " katanya.

Menurut dia, alat bioelektrik seharga Rp7,5 juta per unit itu sedang dikembangkan untuk pemanfaatan kotoran manusia sebagai bahan bakunya.

Camat Cilengkrang Kabupaten Bandung Marlan mengatakan dari sekitar 11.000 kepala keluarga (KK) di kawasan itu, tingkat elektrifikasinya baru sekitar 60 persen.

Sebagian masyarakat, terpaksa menyambungkan kabel dari tetangganya untuk mendapatkan listrik sehingga rentan terhadap dugaan pencurian listrik.

"Dengan alat ini, kami harapkan tingkat elektrifikasi bisa berjalan lebih cepat sehingga seluruh KK sudah bisa menikmati listrik dalam beberapa tahun ke depan, " katanya. (k37)

Bisnis Indonesia (15 Agustus 2009)

Diakses : 648